Jakarta - Penyakit jantung tidak lagi dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya menyerang orang lanjut usia. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa delapan dari sepuluh orang dewasa muda berusia 20-an telah memiliki setidaknya satu faktor risiko terkait penyakit kardiovaskular. Penelitian yang berjudul Future of Families, Cardiovascular Health Among Young Adults (FF-CHAYA) ini melibatkan hampir 1.300 peserta dengan rata-rata usia 23 tahun. Temuan ini menggunakan pembaruan kriteria dari American Heart Association (AHA) pada tahun 2023, yang memasukkan penyakit ginjal kronis sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Konsep Sindrom Kardiovaskular-Ginjal-Metabolik
Pembaruan tersebut juga memperkenalkan istilah sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik, yang menggambarkan hubungan antara gangguan metabolik, penyakit ginjal, dan penyakit kardiovaskular yang sering muncul bersamaan dan saling mempengaruhi. Penelitian ini menemukan bahwa hanya 21 persen peserta yang tidak memiliki faktor risiko CKM. Sementara itu, 40 persen berada di tahap 1 akibat kelebihan lemak tubuh, 36 persen di tahap 2 karena faktor risiko metabolik, dan 3 persen sudah mengalami penyakit ginjal tingkat lanjut atau tanda awal penyakit kardiovaskular.
Para peneliti mencatat bahwa semakin tinggi tahap CKM seseorang, semakin rendah skor Life's Essential 8 mereka. Selain itu, pemeriksaan USG menunjukkan adanya penebalan arteri karotis, yang merupakan tanda awal aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah.
Pergeseran Usia Penyakit Jantung
Di sisi lain, fenomena meningkatnya kasus penyakit jantung di kalangan orang muda sejalan dengan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI). Kemenkes mengingatkan pentingnya waspada terhadap pergeseran usia orang yang mengalami gangguan kardiovaskular, yang disebabkan oleh perubahan gaya hidup. Data menunjukkan bahwa 39 persen orang dengan penyakit jantung di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 44 tahun, dan 22 persen di antaranya berusia antara 15 hingga 35 tahun.
Penyakit jantung sering berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun sebelum terdiagnosis. Oleh karena itu, para ahli menekankan pentingnya pencegahan sejak dini. Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain meningkatkan konsumsi makanan utuh seperti buah, sayur, dan biji-bijian, memilih sumber protein tanpa lemak, menggunakan lemak sehat, serta membatasi konsumsi makanan olahan. Selain itu, penting untuk memperbaiki gaya hidup dengan rutin berolahraga, tidur cukup, berhenti merokok, dan mengelola stres.