Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini mengungkapkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki pengaruh signifikan terhadap kondisi siswa saat bersekolah. Kepala BGN, Sudaryono, menyatakan bahwa persentase siswa yang pergi ke sekolah dalam keadaan lapar telah menurun dari 56 persen menjadi 16 persen.
Walaupun demikian, banyak pihak yang mempertanyakan sejauh mana MBG memengaruhi status gizi anak setelah lebih dari satu tahun pelaksanaannya. Menanggapi hal ini, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengakui bahwa ia belum dapat memberikan kesimpulan yang pasti. Ia menjelaskan bahwa Kemenkes berencana untuk melakukan penilaian status gizi anak usia sekolah guna mengevaluasi dampak dari program MBG tersebut. Rencana survei ini akan melibatkan pengukuran tinggi dan berat badan anak.
Rencana Survei Gizi Anak
Budi menyampaikan bahwa rencana survei ini telah dibahas bersama Sudaryono dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. "Nah kalau MBG, saya terakhir ketemu dengan Pak Sudar, dulu juga dengan Pak Mendikdasmen, kita sedang merencanakan untuk melakukan survei gizi," ujarnya saat menjawab pertanyaan pada Kamis (22/10/2026).
Menurut Budi, Kementerian Kesehatan sebenarnya telah memiliki data survei gizi untuk anak balita. Namun, data tersebut dianggap belum cukup untuk menggambarkan dampak MBG secara keseluruhan, karena kelompok balita bukanlah kelompok penerima utama dari program ini. "Karena MBG kan banyaknya di anak usia sekolah. Nah sekarang kita akan, sudah setuju, akan melakukan survei gizi untuk anak usia sekolah. Sehingga kita bisa ketahui bagaimana perkembangan kecukupan gizinya," tambahnya.
Peningkatan Konsumsi Gizi Anak
Budi menjelaskan bahwa pengukuran status gizi akan dilakukan dengan cara yang mirip dengan pemantauan pertumbuhan pada balita, yaitu dengan mengukur tinggi dan berat badan anak. "Kita nanti akan kayak bayi saja, kita ukur tinggi dan kita ukur berat badannya. Karena ada indikator-indikator penurunan gizinya," jelasnya.
Sebelumnya, BGN juga mengklaim bahwa program MBG telah memberikan dampak positif terhadap pemenuhan kebutuhan pangan anak-anak di sekolah. Data yang disampaikan menunjukkan bahwa persentase siswa yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar telah berkurang secara signifikan. Sudaryono berharap bahwa angka tersebut akan terus menurun hingga tidak ada lagi anak yang pergi ke sekolah dalam kondisi lapar.
BGN juga melaporkan adanya peningkatan dalam konsumsi protein hewani pada anak, yang meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen. Selain itu, konsumsi buah dan sayur juga mengalami kenaikan dari 65 persen menjadi 90 persen setelah program MBG dilaksanakan. Namun, meskipun data tersebut menunjukkan indikator pemenuhan pangan dan pola konsumsi, dampak program terhadap perubahan status gizi anak masih perlu diteliti lebih lanjut melalui pengukuran langsung.
Survei yang direncanakan oleh Kemenkes diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan status gizi anak-anak usia sekolah.