🔴 Breaking
Kesehatan

Jumlah Kasus ISPA Mencapai 314 Ribu di Daerah Terkena Karhutla, 70 Ribu di Antara Mereka Adalah Balita

Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 314 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan, dengan hampir 71 ribu di antaranya adalah anak-an...

Fayra Nugroho

Penulis

22 October 2026
9 kali dibaca
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 314.124 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di area yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam rentang waktu 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Dari total tersebut, hampir 71 ribu kasus dialami oleh anak-anak berusia di bawah lima tahun.

Data yang dirilis Kemenkes mencakup tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota yang terpengaruh oleh karhutla. Dari total kasus, sebanyak 243.234 kasus atau 77,4 persen terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, sedangkan 70.890 kasus atau 22,6 persen dialami oleh anak-anak berusia 0-5 tahun. Pada hari Selasa (20/10), Kemenkes juga melaporkan 3.269 kasus ISPA di wilayah yang terkena dampak karhutla.

Provinsi dengan Kasus ISPA Tertinggi

Berdasarkan informasi dari Kemenkes, provinsi Sumatera Selatan mencatat jumlah kasus ISPA tertinggi, yaitu 82.177 kasus, diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan 78.894 kasus. Berikut adalah rincian kasus ISPA di enam provinsi yang terdampak:

  • Sumatera Selatan: 82.177 kasus
  • Kalimantan Selatan: 78.894 kasus
  • Kalimantan Barat: 55.686 kasus
  • Riau: 36.433 kasus
  • Kalimantan Timur: 27.688 kasus
  • Kalimantan Tengah: 26.740 kasus

Dari enam provinsi tersebut, terdapat 238.283 kasus ISPA pada kelompok usia di atas lima tahun, sedangkan kasus pada anak usia 0-5 tahun mencapai 69.335 kasus.

Penyakit Lain yang Mengancam Kesehatan

Selain ISPA, Kemenkes juga mencatat berbagai penyakit lain yang muncul di wilayah terdampak karhutla, seperti pneumonia, diare akut, penyakit kulit, sakit mata, influenza-like illness (ILI), dan heat stroke. Kalimantan Tengah melaporkan 1.400 kasus pneumonia, sedangkan Kalimantan Barat mencatatkan 4.314 kasus diare akut sebagai jumlah tertinggi.

Di Riau, terdapat 720 kasus penyakit kulit, termasuk keluhan gatal-gatal dan kudis, serta 232 kasus sakit mata yang tercatat di puskesmas, dan 52 kasus heat stroke. Kasus ILI tertinggi juga ditemukan di Kalimantan Tengah dengan 81 kasus.

Untuk mengatasi dampak kesehatan akibat karhutla, pemerintah daerah telah menyediakan rumah oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan. Fasilitas ini bertujuan untuk memberikan akses oksigen dan layanan kesehatan yang diperlukan. Hingga 20 Oktober 2026, Kalimantan Tengah memiliki 295 unit rumah oksigen, diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan 127 unit dan Kalimantan Barat sebanyak 35 unit.

Dinas kesehatan di setiap provinsi juga telah mengerahkan tenaga kesehatan, termasuk dokter, perawat, bidan, apoteker, ahli gizi, epidemiolog, dan tenaga sanitasi. Mobilisasi tenaga kesehatan terbesar terjadi di Kalimantan Timur dengan 3.938 orang, diikuti oleh Jambi dengan 1.411 orang, dan Kalimantan Tengah yang mengerahkan 487 tenaga kesehatan.

Kemenkes juga telah menyalurkan bantuan logistik kesehatan ke daerah yang terdampak selama periode 19 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Bantuan tersebut mencakup 1.001.680 masker bedah, 89.050 masker N95, 40.000 sarung tangan medis, dan 3.632 kacamata pelindung. Selain itu, juga didistribusikan 3.250 nasal kanul, 2.450 nasal oxygen, 800 masker nebulizer, dan 200 masker oksigen.

Untuk obat-obatan, bantuan yang diberikan meliputi 448.600 obat diare, 60.700 antihistamin, 34.560 obat batuk, 24.900 bronkodilator, 4.500 antipiretik, 4.200 kortikosteroid, dan 1.050 antibiotik. Bantuan lainnya juga termasuk oksigen, vitamin, dan salep.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengimbau masyarakat di daerah yang terdampak karhutla untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna meminimalkan paparan asap. Ia menyarankan agar masyarakat tetap berada di rumah dan melakukan aktivitas secara online jika memungkinkan, kecuali bagi pekerja lapangan atau layanan publik.

Bagi mereka yang harus beraktivitas di luar rumah, Aji menyarankan penggunaan masker untuk mengurangi paparan partikel berbahaya dari asap. "Masker disarankan jenis N95 atau KN95. Jika tidak ada, bisa menggunakan masker medis atau masker kain secara berlapis," ujarnya.

Aji juga menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, dan beristirahat yang cukup. "Jaga imunitas tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, dan istirahat yang cukup," ujarnya.

Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan yang terus memburuk diimbau untuk segera mencari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, seperti puskesmas atau rumah sakit. "Apabila mengalami gangguan kesehatan yang terus memburuk, segera ke dokter atau fasyankes terdekat," tambah Aji.

Artikel Terkait