🔴 Breaking
Teknologi

Elon Musk dan Mark Zuckerberg Pilih KPR Meski Mampu Membeli Tunai

Elon Musk dan Mark Zuckerberg, dua triliuner terkemuka, memilih untuk mengambil kredit kepemilikan rumah (KPR) meskipun mereka mampu membeli rumah secara tunai. Langkah ini dianggap sebagai strategi f...

Aditya Surya

Penulis

13 June 2026
4 kali dibaca
Elon Musk dan Mark Zuckerberg Pilih KPR Meski Mampu Membeli Tunai
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Elon Musk dan Mark Zuckerberg, yang dikenal sebagai dua orang terkaya di dunia, telah membuat keputusan menarik dalam membeli rumah. Meskipun keduanya memiliki kemampuan untuk membeli hunian secara tunai, mereka memilih untuk mengambil kredit kepemilikan rumah (KPR) untuk properti mewah mereka. Apa yang mendasari keputusan ini?

Menurut para ahli keuangan, langkah ini merupakan strategi yang cerdas. Bagi individu dengan kekayaan luar biasa, mengambil cicilan rumah meskipun mampu membayar tunai bisa menjadi keputusan yang lebih menguntungkan. Musk, yang saat ini menjadi orang terkaya di dunia, memiliki beberapa cicilan rumah yang bernilai tinggi. Salah satu contohnya adalah pinjaman sebesar 61 juta dollar AS (sekitar Rp1,1 triliun) dari Morgan Stanley untuk membeli lima properti di California. Meskipun jumlah tersebut tampak besar, itu hanya merupakan sebagian kecil dari total kekayaannya yang mencapai 703 miliar dollar AS (sekitar Rp12.654 triliun).

Alasan di Balik Keputusan KPR

Bagi banyak orang, sulit untuk memahami mengapa sosok seperti Musk perlu meminjam puluhan juta dollar AS untuk membeli rumah, padahal ia dapat membayar secara tunai. Jawabannya sederhana: ini bukan sekadar kemampuan finansial, melainkan tentang penempatan uang yang lebih strategis. Sebagian besar kekayaan orang super kaya tidak dalam bentuk uang tunai, melainkan terinvestasi dalam saham, obligasi, dan aset lainnya.

Miltiadis Kastanis, direktur eksekutif penjualan di perusahaan properti Compass, menjelaskan bahwa kelompok ultra-high-net-worth memiliki pandangan yang berbeda mengenai likuiditas dan utang. Mereka lebih memilih untuk membiarkan uang mereka bekerja dalam bentuk investasi atau bisnis, daripada mengunci seluruhnya dalam satu properti. Jika seseorang menginvestasikan uang di saham atau bisnis dengan keuntungan sekitar 10 persen per tahun, sementara bunga cicilan rumah hanya 5 persen, maka mengambil pinjaman justru memberikan keuntungan.

Strategi Keuangan yang Efisien

Mark Zuckerberg, CEO Meta dan orang terkaya ketujuh di dunia, juga menerapkan strategi serupa. Pada tahun 2012, ia membiayai ulang rumahnya di Palo Alto dengan kredit 30 tahun dan bunga rendah hanya 1,05 persen. Dengan bunga yang sangat kecil, cicilannya hampir tidak memberikan beban tambahan. Dalam situasi ini, menahan uang sekitar 6 juta dollar AS di dalam rumah menjadi kurang rasional, karena dana tersebut lebih berpotensi memberikan keuntungan jika dialihkan ke instrumen investasi lainnya.

Era suku bunga rendah di dekade 2010-an menjadi waktu yang tepat bagi orang kaya untuk mengambil kredit jangka panjang. Banyak pembeli dengan kekayaan besar berhasil mendapatkan bunga jauh di bawah standar saat ini. Selain keuntungan investasi, ada juga manfaat dari sisi pajak. Di Amerika Serikat, bunga cicilan rumah dapat menjadi pengurang pajak untuk pinjaman hingga 750.000 dollar AS bagi wajib pajak yang merinci laporannya. Meskipun cicilan Zuckerberg melebihi batas tersebut, ia tetap dapat mengurangi sebagian bunga dari penghasilan kena pajak, sehingga biaya pinjaman menjadi lebih ringan.

Islay Robinson, pendiri dan CEO perusahaan pialang kredit Enness Global, menambahkan bahwa cicilan rumah memberikan peluang untuk optimisasi pajak di berbagai negara karena pembayaran bunga dapat dikurangkan. Ia juga menjelaskan bahwa dalam kondisi inflasi tinggi, nilai uang cenderung menurun seiring waktu. Oleh karena itu, meminjam sekarang dan membayarnya di kemudian hari dengan uang yang nilainya lebih rendah dapat menjadi pilihan yang lebih menguntungkan.

Strategi lain yang jarang dibahas tetapi sangat menguntungkan bagi orang kaya adalah pinjaman berbasis investasi. Konsep ini memungkinkan mereka untuk meminjam uang dengan menjadikan saham dan aset investasi sebagai jaminan, tanpa harus menjual aset tersebut. Bank JP Morgan menjelaskan bahwa meminjam dengan jaminan aset memungkinkan seseorang untuk tetap berinvestasi, menunda pajak, dan membebaskan dana untuk peluang lain, tanpa harus menjual investasi untuk mengumpulkan uang.

Strategi ini dikenal sebagai "beli, pinjam, mati" (buy, borrow, die). Caranya adalah dengan mengumpulkan aset yang nilainya terus meningkat, meminjam dengan aset tersebut sebagai jaminan untuk membiayai pengeluaran, dan kemudian mewariskan aset kepada ahli waris. Saat diwariskan, terjadi penyesuaian nilai dasar aset yang membuat sebagian besar pajak keuntungan modal yang menumpuk selama bertahun-tahun menjadi hilang.

Bagi pembeli rumah biasa, strategi yang diterapkan oleh triliuner ini mungkin tidak dapat diterapkan secara langsung. Tidak semua orang memiliki akses ke bunga 1,05 persen atau dapat meminjam puluhan juta dollar AS dengan jaminan saham. Namun, prinsip di balik strategi ini tetap dapat dipelajari. Keputusan finansial yang paling bijak terkadang bukanlah melunasi semua kewajiban sekaligus, tetapi menjaga uang tetap fleksibel dan terus bekerja untuk pemiliknya.

Artikel Terkait