Pada bulan Mei lalu, Meta, perusahaan media sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg, melaksanakan pemutusan hubungan kerja secara massal yang mengakibatkan 8.000 karyawan, atau sekitar 10 persen dari total pegawai, terkena dampaknya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya efisiensi di induk dari platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Di saat yang bersamaan, Meta juga berencana untuk berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mereka, dengan alokasi dana lebih dari 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.764 triliun) untuk tahun ini.
Kedua kebijakan tersebut menimbulkan ironi, terutama setelah Zuckerberg secara terbuka menyatakan bahwa AI tidak akan menggantikan manusia. Pernyataan ini disampaikan menjelang rilis laporan keuangan untuk kuartal bulan Juni.
AI dan Kebutuhan Pekerja Terampil
Zuckerberg menekankan bahwa semua upaya terkait AI pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja baru karena berbagai infrastruktur yang perlu dibangun. Ia menyatakan, "Segala upaya yang berkaitan dengan AI, pada akhirnya akan menciptakan lapangan pekerjaan karena adanya berbagai infrastruktur yang perlu dibangun." Ia juga mengungkapkan bahwa kekhawatiran tentang banyaknya pekerjaan yang akan hilang akibat AI tidak seburuk yang dibayangkan.
Pernyataan Zuckerberg mungkin memiliki kebenaran tersendiri, mengingat jenis pekerjaan yang ia maksud bukanlah posisi yang dihilangkan oleh Meta. Ia lebih menyoroti kebutuhan akan pekerja terampil yang lebih banyak melibatkan keterampilan fisik. Saat ini, Meta sedang membangun 32 pusat data di seluruh dunia dan berencana untuk menggandakan kapasitas komputasi dari 7 gigawatts (GW) tahun ini menjadi 14 GW pada tahun 2027. Fasilitas sebesar ini tentunya memerlukan banyak tenaga kerja terampil, seperti teknisi listrik dan teknisi sistem pendingin.
Pernyataan Zuckerberg sejalan dengan pandangan Jensen Huang, CEO Nvidia, yang menyampaikan bahwa percepatan pembangunan pusat data untuk mendukung AI akan menciptakan permintaan besar terhadap tenaga kerja terampil. Huang pernah mengatakan, "Kalau Anda seorang tukang listrik, tukang ledeng, atau tukang kayu, kita akan butuh ratusan ribu orang untuk membangun semua pabrik ini." Ia menambahkan bahwa pembangunan data center bukanlah proyek sekali jadi, melainkan akan terus berkembang.
Ketegangan Internal dan Dampak PHK
Di tengah optimisme Zuckerberg mengenai AI, situasi internal di Meta tampaknya tidak sejalan dengan harapan tersebut. Gelombang PHK yang terjadi pada 20 Mei dilaporkan dilakukan secara bertahap berdasarkan zona waktu, dengan pemberitahuan yang dikirim melalui email mulai pukul 04.00 pagi di Singapura, dan berlanjut ke Inggris dan Amerika Serikat. Beberapa karyawan yang baru saja direkrut juga terkena dampak PHK ini.
Suasana di kantor Meta saat itu berbeda dari biasanya, di mana divisi sumber daya manusia meminta karyawan untuk bekerja dari rumah. Rekan-rekan yang terkena PHK hanya menerima ucapan perpisahan melalui emoji salad, yang merupakan kode internal untuk menyampaikan salam kehormatan. Ketegangan di dalam perusahaan telah muncul sebelum gelombang PHK, dengan lebih dari 1.000 karyawan menandatangani petisi yang menolak kebijakan perusahaan yang merekam aktivitas di laptop kerja mereka tanpa opsi untuk menolak.
Di sisi lain, belanja AI Meta yang terus meningkat mulai memicu pertanyaan dari para investor. Arus kas bebas Meta pada kuartal II 2026 tercatat turun 91 persen menjadi 784 juta dollar AS, yang merupakan level terendah sejak akhir 2022. Setelah laporan keuangan dirilis, saham Meta sempat mengalami penurunan sekitar 10 persen meskipun pendapatan perusahaan tumbuh 28 persen menjadi 60,8 miliar dollar AS. Para investor mulai mempertanyakan hasil yang akan diperoleh dari investasi AI yang sangat besar tersebut.
Menanggapi kekhawatiran ini, Zuckerberg menyatakan bahwa kapasitas komputasi AI kini menjadi aset yang sangat berharga. Meta bahkan telah menerima tawaran untuk menyewakan kapasitas komputasinya dengan harga premium dan sedang menjajaki pembicaraan awal dengan perusahaan AI Anthropic. Namun, Zuckerberg menolak untuk mengambil keuntungan jangka pendek, berpendapat bahwa menjual kapasitas komputasi saat ini justru akan menghambat ambisi Meta dalam membangun model AI dan asisten AI pribadi di masa depan. "Taruhan pribadi saya adalah orang-orang yang berinvestasi pada teknologi ini akan mendapatkan hasilnya," tutupnya.