Jakarta - Belakangan ini, banyak netizen yang mengungkapkan pengalaman mereka mengenai suhu dingin yang dirasakan pada malam hingga pagi hari di berbagai daerah di Pulau Jawa. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding, yang dalam bahasa Jawa disebut 'Bedhidhing', dan biasanya terjadi selama musim kemarau.
Salah satu pengguna media sosial, @Ich*******, menyatakan, "Cirebon daerah Sepantura ini kena angin dingin, dan suhu segini aja gue langsung pilek. Mana airnya dingin banget." Pengguna lainnya, @koi*******, juga merasakan dampaknya, "Gue bisa merasakan jari-jari kaku di Jatinangor dingin banget."
Penyebab Suhu Dingin Bediding di Pulau Jawa
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa suhu dingin ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penguatan Monsun Australia. Angin musim yang membawa massa udara kering dapat mengurangi kelembapan dan pembentukan awan di atmosfer.
Minimnya tutupan awan memungkinkan panas dari permukaan bumi untuk lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari, sehingga suhu udara bisa turun secara signifikan, terutama menjelang pagi. BMKG menyatakan, "Tanpa selimut awan, panas bumi terlepas bebas ke angkasa di malam hari yang membuat suhu minimum anjrok drastis, khususnya menjelang pagi hari."
Dr. Givo Alsepan, seorang dosen di Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, menambahkan bahwa bediding adalah fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia menjelaskan, "Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif."
Menurutnya, fenomena ini muncul akibat kombinasi beberapa kondisi atmosfer yang umum terjadi saat musim kemarau, termasuk langit yang cerah di malam hari. Udara yang lebih kering juga berkontribusi, karena berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat proses pendinginan menjadi lebih efektif.
Wilayah yang Paling Terasa Dingin
Berdasarkan informasi dari BMKG, fenomena bediding ini lebih terasa di daerah dataran tinggi. Beberapa lokasi seperti Gunung Bromo dan Dieng mengalami suhu yang sangat rendah. BMKG mencatat suhu di Bromo mencapai 3,9 derajat Celsius pada tanggal 11 Juni, sedangkan Dieng mencatat suhu hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat Celsius.
BMKG juga menjelaskan bahwa di daerah dataran tinggi seperti Gunung Bromo, embun yang menempel di daun bisa membeku menjadi kristal es, mirip dengan salju. Dr. Givo menambahkan bahwa kondisi ini akan lebih terasa di wilayah pegunungan dan dataran tinggi, di mana udara dingin cenderung mengalir dan berkumpul di lembah.
Di Dataran Tinggi Dieng, fenomena ini dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.
Sampai Kapan Terjadi?
Berdasarkan data BMKG selama sepuluh tahun terakhir, penurunan suhu mulai terasa pada bulan Juli dan mencapai puncaknya antara Juli hingga Agustus. Dr. Givo memperkirakan fenomena ini akan berlangsung hingga puncak musim kemarau, sekitar akhir Juli hingga Agustus, dan di beberapa daerah mungkin berlanjut hingga awal September, tergantung pada kondisi atmosfer.
Walaupun demikian, ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan selama fenomena ini, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Udara dingin dan kering dapat memperburuk gejala influenza, asma, dan infeksi saluran pernapasan. Masyarakat juga disarankan untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh meskipun cuaca terasa dingin dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang meningkat pada musim kemarau.
Dr. Givo menegaskan, "Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik."