Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan pandangannya terkait kematian seorang pekerja laboratorium di Siberia, Rusia, yang diduga terinfeksi bakteri penyebab pes. Dalam upaya meningkatkan kewaspadaan, Wamenkes menyatakan bahwa pihaknya telah memperkuat sistem surveilans kesehatan.
Menurut Dante, hingga saat ini tidak ada laporan mengenai gejala yang berkaitan dengan pes yang ditemukan di Indonesia. "Kita sudah mendapatkan laporan bahwa di Indonesia belum ditemukan ya pesnya. Kita akan tetap melakukan surveilans terhadap gejala-gejala yang timbul," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, pada Minggu (11/10/2026).
Surveilans Kesehatan Diperketat
Wamenkes menambahkan bahwa pihaknya terus memberikan panduan serta peringatan terkait gejala yang mungkin muncul, meskipun hingga saat ini belum ada indikasi adanya penyakit pes di Indonesia. "Iya, Surveilansnya diperketat," tuturnya.
Kematian Peneliti yang Mengundang Perhatian
Kabar mengenai kematian peneliti bakteri pes di Rusia menarik perhatian banyak kalangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah meminta agar pihak Rusia bersikap transparan mengenai data terkait insiden ini. Peneliti yang bernama Darya Shipilova (28) dilaporkan mengalami sakit parah setelah terjadi insiden di laboratorium pada 25 September 2026. Beberapa media di Rusia menyebutkan bahwa ia diduga telah memecahkan tabung yang berisi bakteri Yersinia pestis, meskipun hal ini belum dikonfirmasi.
Darya dirawat dalam kondisi pneumonia berat dan harus menggunakan ventilator hingga akhirnya meninggal pada awal Oktober. Otoritas kesehatan Rusia kemudian menyatakan bahwa penyebab kematian Darya adalah pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
Dengan adanya kejadian ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi terkait kesehatan, terutama yang berkaitan dengan penyakit menular.