Jakarta - Berbagi cerita mengenai masalah kejiwaan melalui chatbot berbasis AI telah menjadi hal yang semakin umum. Terkadang, curhatan tersebut meliputi berbagai gangguan mental yang dialami seseorang. Dr. dr. Hervita Diatri, SpKJ, SubspKom(K), seorang spesialis kesehatan jiwa, memberikan beberapa syarat yang harus diperhatikan bagi mereka yang memilih untuk curhat kepada ChatGPT.
Pentingnya Mengenali Diri Sendiri
Menurut dr. Hervita, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali diri sendiri dan tetap menggunakan nalar saat menggunakan layanan ini. Dengan pemahaman yang baik tentang diri sendiri, seseorang dapat lebih mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan, termasuk dalam mencari jenis bantuan yang tepat.
Penggunaan yang Rasional dan Kritis
Dr. Hervita menekankan pentingnya pendekatan yang rasional dan kritis saat menggunakan ChatGPT. Ia menyatakan, "'Tetap harus digunakan rasionalnya. Ini saya apa nggak, ya? Ini cocok nggak dengan saya atau nggak?'" Hal ini penting agar pengguna tidak salah dalam menafsirkan informasi yang diberikan.
Ia juga menambahkan, jika penggunaan ChatGPT tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk berkomunikasi langsung dan mendapatkan umpan balik, maka sebaiknya individu tersebut mencari bantuan dari profesional. "Karena kan manusia butuh manusia," ujarnya.
Dalam konteks layanan kesehatan, dr. Hervita menyarankan puskesmas sebagai pilihan terdekat untuk mendapatkan bantuan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI saat ini sedang berupaya untuk memperbanyak akses psikolog di puskesmas agar layanan kesehatan mental lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
Selain itu, terdapat banyak helpline untuk konseling, termasuk hotline yang disediakan oleh Kemenkes di nomor 119. "Tapi yang paling penting, teman-teman paling tahu apa yang terjadi dalam diri teman-teman," tutupnya.