Pergerakan harga emas global pada hari Jumat, 26 Juni 2026, menunjukkan tren positif setelah mengalami penurunan yang signifikan. Kenaikan ini terjadi setelah data inflasi dari Amerika Serikat (AS) dirilis dan sesuai dengan ekspektasi pasar, yang membantu meredakan kekhawatiran investor terkait kemungkinan kenaikan suku bunga yang agresif oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Selain itu, kondisi ini juga berkontribusi pada pelemahan nilai dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Menurut informasi yang diperoleh dari CNBC, harga emas di pasar spot meningkat sebesar 0,7% menjadi US$ 4.029,09 per ons, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan hingga 1% pada awal perdagangan. Sementara itu, harga emas di AS juga mengalami penguatan sebesar 0,9%, mencapai US$ 4.045,20 per ons.
Faktor Pendukung Kenaikan Harga Emas
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menjelaskan bahwa data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis sesuai dengan perkiraan pasar menjadi salah satu faktor yang mendukung pergerakan harga emas. "Data PCE secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal itulah yang membuat pergerakan harga emas hari ini relatif stabil," ungkap Meger.
Data dari pemerintah AS menunjukkan bahwa indeks harga PCE mengalami kenaikan sebesar 4,1% secara tahunan hingga Mei 2026. Ini merupakan peningkatan tertinggi dan pertama kalinya inflasi PCE berada di atas level 4% sejak April 2023. Hasil ini sejalan dengan proyeksi yang diberikan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters.
Setelah pengumuman data inflasi, indeks dolar AS melemah, yang membuat harga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami penurunan.
Proyeksi Kenaikan Suku Bunga dan Dampaknya
Meskipun demikian, pelaku pasar masih memprediksi adanya kemungkinan besar untuk kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan Desember mendatang. Berdasarkan analisis dari CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Desember diperkirakan berada di kisaran 80%, menurun dari 85% sebelum data inflasi dirilis. Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan 61% sebelum rapat kebijakan The Fed yang berlangsung minggu lalu.
Meger menambahkan bahwa perhatian investor ke depan akan tetap tertuju pada perkembangan inflasi, yang akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed. "Fokus utama pasar tetap pada tekanan inflasi ke depan. Itulah salah satu alasan mengapa harga emas mengalami pelemahan dalam beberapa sesi terakhir," jelasnya.
Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat jatuh di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya sejak November 2025. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga setelah The Fed mengadopsi nada yang lebih agresif dalam pertemuan kebijakan moneternya minggu lalu. Meskipun emas dikenal sebagai aset yang dapat melindungi nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia ini, karena investor cenderung beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Sementara itu, harga minyak dunia juga mengalami penurunan kembali ke level sebelum terjadinya konflik di Timur Tengah. Penurunan ini disebabkan oleh ekspektasi meningkatnya pasokan minyak setelah kesepakatan penghentian perang antara Amerika Serikat dan Israel, yang memungkinkan jalur pelayaran di selat strategis kawasan tersebut untuk kembali beroperasi.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak meningkat sebesar 2,2% menjadi US$ 58,68 per ons. Harga platinum juga mengalami penguatan sebesar 1,8% menjadi US$ 1.606,09 per ons, sedangkan palladium naik sebesar 2,7% menjadi US$ 1.199,47 per ons.