Berwisata ke desa tidak akan lengkap tanpa mencicipi kuliner lokal. Namun, penting untuk memperhatikan aspek keamanan pangan yang menyertainya. Dalam upaya ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan keamanan pangan di desa wisata.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam acara Pertemuan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (Germas SAPA) 2026 yang berlangsung di Kantor BPOM, Jakarta, pada Selasa (20/10/2026).
Integrasi Program Keamanan Pangan
Taruna mengungkapkan bahwa sinergi ini bertujuan untuk mengintegrasikan program Desa Pangan Aman yang dimiliki BPOM dengan program Desa Wisata dari Kementerian Pariwisata. "Kami ingin menjelaskan bahwa program-program ini saya yakin semakin kuat, semakin menembus, semakin mengakar ke masyarakat kita kalau kami bersinergi dengan Kementerian Pariwisata," jelasnya.
Sejak 2017, BPOM telah menjalankan program Desa Pangan Aman yang kini menjangkau 6.322 desa dan kelurahan, didukung oleh 31.541 kader keamanan pangan yang telah dilatih. Selain itu, BPOM juga melaksanakan program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas di 527 pasar serta mengedukasi keamanan pangan di 19.603 sekolah.
Dengan adanya kerja sama ini, BPOM berharap edukasi dan pendampingan mengenai keamanan pangan dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha, termasuk produsen makanan khas yang menjadi daya tarik desa wisata.
Peningkatan Kualitas Layanan Destinasi Wisata
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menambahkan bahwa terdapat lebih dari 6.300 desa wisata dalam jaringan Kementerian Pariwisata. Ia menekankan bahwa keamanan pangan merupakan bagian penting dari kualitas layanan destinasi wisata. "Kami menyambut baik, terima kasih Bapak, atas program ini karena pada akhirnya 6.300 desa wisata ini akan lebih cepat lagi naik kelas," ungkapnya.
Widiyanti juga memaparkan hasil pemantauan dan pembinaan terhadap 66 desa wisata pada tahun 2025, di mana pendapatan desa meningkat sebesar 29,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan penyerapan tenaga kerja meningkat sebesar 53,34 persen. Ia memberikan contoh Desa Kenteng di Kabupaten Semarang, di mana jumlah balita stunting turun dari 31 menjadi 11 anak, menunjukkan bahwa pengembangan desa dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Ke depan, BPOM dan Kementerian Pariwisata akan menyusun indikator untuk mengevaluasi hasil kerja sama, termasuk penurunan kasus keracunan pangan. Saat ini, diperkirakan terdapat 29 juta orang yang mengalami keracunan pangan, atau sekitar 10 persen dari populasi berdasarkan data global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Program ini diharapkan dapat mendorong usaha pangan skala mikro untuk berkembang menjadi usaha kecil dan menengah, serta membuka peluang ekspor bagi produk lokal. Dengan penguatan keamanan pangan, desa wisata diharapkan tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga memberikan pengalaman kuliner yang aman dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.