🔴 Breaking
Kesehatan

Mengapa Longsoran Salju Sangat Berbahaya bagi Pendaki Gunung?

Tragedi menyedihkan menimpa dunia pendakian internasional setelah pendaki terkenal Nimsdai dilaporkan meninggal akibat longsoran salju ekstrem. Fenomena ini memiliki risiko tinggi yang mengancam kesel...

Raihan Fadhila

Penulis

02 August 2026
6 kali dibaca
Foto: Ilustrasi naik gunung bersalju (Martin Silva/AFP/Getty Images)
Foto: Ilustrasi naik gunung bersalju (Martin Silva/AFP/Getty Images)

Jakarta - Dunia pendakian internasional kembali berduka setelah kabar mengenai meninggalnya pendaki legendaris Nimsdai (Nirmal Purja) akibat terjangan longsoran salju ekstrem di pegunungan tinggi. Longsoran salju atau avalanche terjadi ketika lapisan salju yang tebal tiba-tiba runtuh dan meluncur dengan kecepatan tinggi ke bawah lereng gunung. Pertanyaannya, mengapa fenomena ini begitu mematikan?

Menurut informasi dari laman Popular Mechanics, salah satu faktor utama yang menjadikan longsoran salju sangat berbahaya adalah waktu yang sangat terbatas untuk melakukan penyelamatan. Ketika seseorang tertimbun salju, peluang untuk bertahan hidup akan menurun drastis dalam hitungan menit. "Jika tim penyelamat dapat menemukan dan menggali korban yang tertimbun dalam waktu 10 menit, orang tersebut memiliki peluang bertahan hidup sebesar 80%. Memasuki 15 menit, tingkat kelangsungan hidup turun hingga 40%, dan setelah 35 menit peluangnya kurang dari 10%," jelas Anne St. Clair, seorang peramal longsoran salju publik dari Avalanche Canada.

Data Mengenai Longsoran Salju

Berdasarkan informasi dari National Snow & Ice Data Center (NSIDC), longsoran salju berskala besar dapat melepaskan hingga 300.000 yard kubik salju, yang setara dengan 20 lapangan sepak bola yang tertimbun salju setinggi 3 meter. Tiga penyebab utama kematian bagi korban yang terjebak di dalamnya adalah trauma fisik berat, hipotermia, dan asfiksia (kehabisan oksigen).

Kompleksitas Salju dan Jenis Longsoran

Pemahaman mengenai fenomena longsoran salju secara ilmiah cukup rumit. Johan Gaume, seorang Profesor di Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne (EPFL), menjelaskan bahwa salju merupakan material yang sangat kompleks dan dapat berperilaku sebagai zat padat maupun cair. Secara umum, para ahli mengklasifikasikan tiga jenis longsoran salju:

  • Loose Snow Avalanche: Longsoran salju lepas berbentuk trapesium atau pir yang dipicu dari satu titik salju tanpa kohesi.
  • Glide Snow Avalanche: Pergerakan lambat seluruh lapisan salju yang meluncur di atas permukaan tanah, ditandai dengan munculnya retakan besar berbentuk bulan sabit.
  • Slab Avalanche: Jenis paling berbahaya yang menjadi penyebab 95 persen kecelakaan fatal. Jenis ini terjadi ketika lapisan salju padat yang keras mendadak patah dan runtuh di atas lapisan salju bawah yang lebih rapuh.

Ethan Greene, Direktur Colorado Avalanche Information Center (CAIC), menyatakan bahwa bahaya utama dari longsoran salju terbagi menjadi trauma fisik dan gagal napas. "Di Amerika Serikat, 25% orang meninggal akibat trauma fisik saat diterjang longsoran salju. Penyebab kematian paling umum kedua adalah asfiksia. Jika Anda selamat dari gulungan salju tetapi tertimbun, Anda tidak bisa membuang hembusan napas. Akhirnya Anda menghirup terlalu banyak karbon dioksida dan mati lemas," ungkap Ethan Greene.

Pakar keselamatan menyarankan bagi siapa saja yang terjebak dalam longsoran salju untuk berusaha menciptakan ruang udara di sekitar wajah atau kepala menggunakan tangan atau lengan sebelum salju membeku. Ruang kecil ini menjadi kunci vital untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan tiba.

Artikel Terkait