🔴 Breaking
Kesehatan

Pasien Hantavirus Meninggal di RSHS, Kemenkes Tegaskan Kasus Terjadi pada 2025

Seorang pria berusia 49 tahun meninggal dunia setelah dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung akibat infeksi hantavirus dan leptospirosis. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa kasus ini tidak t...

Eko Prasetyo

Penulis

20 May 2026
6 kali dibaca
Pasien Hantavirus Meninggal di RSHS, Kemenkes Tegaskan Kasus Terjadi pada 2025
Hantavirus. (Foto: detikHealth)

Seorang pasien laki-laki berusia 49 tahun dilaporkan meninggal setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, akibat terinfeksi hantavirus dan leptospirosis. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa kejadian ini berlangsung pada tahun 2025 dan tidak ada hubungannya dengan hantavirus yang sebelumnya menjadi perbincangan di kapal pesiar MV Hondius.

Dokter spesialis penyakit dalam di RSHS Bandung, Elisabeth Hutajulu, menjelaskan bahwa pasien merupakan seorang buruh bangunan yang tinggal di Cibeunying Kolot, Kota Bandung. Ia menjalani perawatan selama tiga hari sebelum meninggal dunia karena kondisinya yang semakin memburuk. Gejala pertama kali muncul sekitar enam hari sebelum pasien dirawat di rumah sakit, di mana ia mengalami demam yang datang dan pergi. Dalam tiga hari terakhir sebelum dirawat, pasien mulai merasakan nyeri yang semakin parah di bagian perut kanan atas.

Gejala dan Perawatan Pasien

Elisabeth mengungkapkan, "Nyeri disertai badan dan mata kuning sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit," dalam sosialisasi mengenai Hantavirus yang disiarkan secara daring. Selain itu, pasien juga mengalami mual dan muntah setiap kali makan atau minum. Saat pertama kali tiba di rumah sakit, tim medis mendapati pasien dalam keadaan demam, mata menguning, dan mengalami sesak napas.

Pada hari pertama perawatan, demam dan nyeri perut masih terdeteksi, namun kondisi sesak napas pasien semakin memburuk. Memasuki hari kedua, keadaan pasien menjadi kritis. "Ketika diedukasi untuk tindakan intubasi, keluarga menolak. Akhirnya pasien meninggal dunia," jelas Elisabeth. Ia menambahkan bahwa pasien masih tergolong muda dan tidak memiliki penyakit penyerta seperti diabetes atau hipertensi, namun penurunan kondisinya berlangsung sangat cepat.

Diagnosis dan Penyebab Kematian

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa saturasi oksigen pasien telah menurun. Rontgen menunjukkan adanya bronkopneumonia, sementara hasil USG mengindikasikan kardiomegali atau pembesaran jantung. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, pasien dinyatakan positif terinfeksi hantavirus dan leptospirosis. Kombinasi kedua infeksi ini diduga menjadi penyebab beratnya kondisi pasien.

Elisabeth menjelaskan, "Setelah dikirimkan sampelnya, pasien ini positif hantavirus dan leptospirosis, jadi ini yang menjelaskan kenapa pasien itu cukup berat dengan prokalsitonin meningkat kemudian trombositnya juga sangat rendah." Tim medis kemudian mendiagnosis pasien mengalami Weil's disease dengan infeksi hantavirus disertai syok sepsis. Selain itu, pasien juga mengalami Acute Kidney Injury (AKI) stage 3 dengan hiperkalemia sebelum akhirnya meninggal dunia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa kasus ini tidak ada kaitannya dengan hantavirus yang sebelumnya dikaitkan dengan kapal MV Hondius. "Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan tipe HPS yang di MV Hondius," ujar Andi saat dikonfirmasi.

Artikel Terkait