🔴 Breaking
Kesehatan

Penelitian Unair: Risiko Alergi Akibat BPA dalam Galon Air Minum Isi Ulang

Sebuah penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara konsumsi air minum yang mengandung Bisphenol A (BPA) dan peningkatan risiko ale...

Sabina Almira

Penulis

30 July 2026
11 kali dibaca
Foto: Dok. Istimewa
Foto: Dok. Istimewa

Jakarta - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara konsumsi air minum dalam kemasan yang mengandung Bisphenol A (BPA) dan peningkatan risiko riwayat alergi atau hipersensitivitas pada orang dewasa. Dalam artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal AIMS Environmental Science edisi 2025, tim peneliti menyatakan bahwa paparan BPA melalui konsumsi air minum dalam kemasan berkaitan dengan gangguan imunosupresif.

BPA adalah bahan kimia yang umum digunakan dalam pembuatan plastik keras polikarbonat, termasuk galon air minum isi ulang. Selama ini, banyak perdebatan publik yang mengangkat isu bahaya BPA, lebih fokus pada risiko kanker dan gangguan reproduksi, sementara dampaknya terhadap sistem kekebalan tubuh sering kali terabaikan.

Temuan Penelitian dan Metodologi

Dr. Sudarmaji, dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unair sekaligus anggota tim riset, menegaskan bahwa temuan ini bukanlah hal baru. "Selama lebih dari satu dekade terakhir, cukup banyak penelitian eksperimental maupun epidemiologi yang melaporkan bahwa pajanan BPA berpotensi memengaruhi sistem imun. Hasil penelitian kami menjadi tambahan bukti ilmiah, khususnya dari Indonesia, bahwa pajanan BPA melalui air minum dalam kemasan layak terus dipantau sebagai isu kesehatan lingkungan," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Kamis (30/7/2026).

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tambak Wedi, Surabaya, dengan melibatkan 96 responden dewasa yang rata-rata mengonsumsi sekitar dua liter air per hari selama kurang lebih 31 tahun. Pengujian laboratorium terhadap 10 merek air kemasan galon yang beredar menunjukkan bahwa semuanya mengandung BPA, dengan kadar tertinggi mencapai 0,099 µg/L. Penelitian ini juga mencatat adanya korelasi positif antara paparan BPA dan gangguan imunosupresif berupa riwayat hipersensitivitas.

Dampak Biologis dan Kelompok Rentan

Dr. Sudarmaji menjelaskan bahwa secara biologis, BPA diduga dapat meningkatkan stres oksidatif dan memicu proses inflamasi. "Akibatnya, pada individu tertentu, respons imun dapat menjadi tidak seimbang sehingga lebih mudah muncul reaksi hipersensitivitas atau alergi," tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya melihat potensi gangguan ini dalam konteks paparan jangka panjang. "Rata-rata responden mengonsumsi sekitar dua liter air per hari dengan durasi konsumsi sekitar 31 tahun. Pajanan kumulatif jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian," jelasnya. Kelompok yang paling rentan terhadap efek imunotoksik ini meliputi janin, bayi, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan sistem imun yang belum matang atau sedang mengalami gangguan.

Dr. Sudarmaji menegaskan bahwa temuan ini menjadi sinyal ilmiah bahwa pajanan BPA perlu dikendalikan, terutama melalui pengawasan kualitas kemasan pangan, edukasi masyarakat, dan penelitian lebih lanjut.

Artikel Terkait