🔴 Breaking
Kesehatan

Pentingnya Skrining Kanker Sejak Dini untuk Meningkatkan Kesempatan Sembuh

Kanker menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, dengan banyak kasus terdeteksi pada stadium lanjut. Oleh karena itu, skrining dini sangat diperlukan untuk meningkatkan peluang pengobat...

Bima Sakti

Penulis

15 July 2026
6 kali dibaca
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Kanker tetap menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Sayangnya, banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah berada pada stadium lanjut, sehingga pengobatan menjadi lebih rumit dan peluang keberhasilan terapi menurun. Oleh karena itu, deteksi dini atau skrining sangat penting untuk menemukan kanker sebelum berkembang lebih jauh. Pemeriksaan rutin dapat membantu pasien mendapatkan penanganan lebih cepat dan mempertahankan kualitas hidup mereka.

Forum Kanker Indonesia-China 2026

Pentingnya deteksi dini menjadi salah satu topik utama dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang berlangsung di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, pada Minggu (12/7/2026). Forum ini difasilitasi oleh Modern Cancer Hospital Guangzhou sebagai mitra dari China Anti-Cancer Association (CACA) dalam inisiatif Belt and Road, dan mempertemukan para ahli kesehatan dari Indonesia, Tiongkok, dan beberapa negara Asia untuk membahas pencegahan, skrining, teknologi pengobatan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kolaborasi dalam layanan kanker.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong masyarakat untuk melakukan deteksi dini melalui layanan kesehatan primer. "Program cek kesehatan gratis saat ulang tahun menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan skrining, terutama bagi masyarakat berusia 40 tahun ke atas karena risiko kanker mulai meningkat pada usia tersebut," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Jadwal dan Jenis Skrining

Jenis dan waktu pelaksanaan skrining harus disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, serta faktor risiko masing-masing individu. Masyarakat yang berusia 40 tahun ke atas disarankan untuk lebih rutin menjalani pemeriksaan kesehatan. Selain itu, pemeriksaan lebih awal juga perlu dipertimbangkan bagi mereka yang memiliki riwayat kanker dalam keluarga atau mengalami gejala seperti benjolan yang tidak kunjung hilang, penurunan berat badan tanpa sebab, perdarahan tidak normal, dan batuk berkepanjangan. Meskipun tidak selalu menunjukkan kanker, keluhan-keluhan tersebut sebaiknya segera diperiksakan.

Pola Hidup Sehat dalam Pencegahan Kanker

Selain melakukan skrining, penerapan pola hidup sehat juga merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan kanker. Dokter spesialis gizi klinik, dr. Della MW Cintakaweni, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, AIFO-K, mengungkapkan bahwa masyarakat perlu membiasakan diri dengan pola makan bergizi seimbang sejak dini. "Masyarakat bisa mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung protein, vitamin, dan mineral, serta memperbanyak sayur dan buah dengan beragam warna untuk menjaga kesehatan mikrobiota usus," jelasnya. Ia juga mengingatkan untuk membatasi konsumsi makanan tinggi gula, tinggi lemak, serta produk yang mengandung bahan pengawet dan pewarna berlebihan.

Kolaborasi dalam Penanganan Kanker

Forum ICCF 2026 diharapkan dapat memperkuat pengembangan pendekatan onkologi yang lebih holistik di kawasan Asia. Ketua Umum CACA, Profesor Fan Dai Ming, menjelaskan bahwa pendekatan onkologi integratif sangat penting untuk menghadapi tantangan kanker di Asia. Pendekatan ini menggabungkan berbagai disiplin ilmu, menyelaraskan pengobatan modern dan tradisional, serta mencakup pencegahan, skrining, diagnosis, pengobatan, hingga rehabilitasi. Fan Dai Ming juga mengapresiasi kebijakan Indonesia yang memasukkan pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional dan mengundang para ahli Indonesia untuk menghadiri Kongres Internasional CACA di Changsha pada November 2026.

Dalam forum tersebut, delegasi Tiongkok yang dipimpin oleh Wakil Ketua CACA, Profesor Wang Ying, berbagi pengalaman mengenai skrining dini, manajemen kanker terstandar, serta perkembangan CACA Guidelines yang disusun berdasarkan karakteristik populasi Asia. Sementara itu, Profesor Zhang Fu Jun memaparkan penggunaan implan partikel radioaktif, Profesor Li Peng Fei membahas imunoterapi dan terapi sel, sedangkan Profesor Yin Pingshan menjelaskan integrasi pengobatan tradisional Tiongkok dalam penanganan kanker. Melalui pelatihan internasional, konsultasi jarak jauh, dan pengembangan layanan yang berorientasi pada pasien, Modern Cancer Hospital Guangzhou diharapkan dapat terus menjadi jembatan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan layanan onkologi.

Artikel Terkait