🔴 Breaking
Kesehatan

Penutupan Selat Hormuz: BPOM Berupaya Menjamin Pasokan Obat di Indonesia

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan langkah-langkah untuk memastikan kelangsungan pasokan bahan baku obat di Indonesia menyusul penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik. Se...

Sekar Wangi

Penulis

15 July 2026
11 kali dibaca
Foto: Getty Images/apomares
Foto: Getty Images/apomares

Jakarta - Dalam menghadapi penutupan Selat Hormuz yang kembali terjadi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) mengonfirmasi bahwa mereka terus berupaya menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku obat di Indonesia. Situasi ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa saat ini sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia berasal dari impor. Bahan baku ini mencakup bahan mentah, bahan antara, hingga produk jadi yang kemudian dikemas ulang di dalam negeri. "Tentu kita paham bahwa kebutuhan obat nasional kita itu merupakan bagian dari ketahanan nasional. Jika obat tidak mencukupi, maka itu membahayakan kesehatan dan keamanan nasional kita," ungkap Taruna di Jakarta pada Senin (13/7/2026).

Langkah Antisipasi untuk Menghadapi Gangguan Pasokan

Taruna menekankan bahwa tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor memerlukan langkah-langkah antisipatif dari pemerintah apabila terjadi gangguan dalam rantai pasokan global, termasuk yang disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz. "BPOM melakukan penataan regulasi dan memberikan kemudahan bagi industri untuk melakukan switching supply chain jika sewaktu-waktu terjadi gangguan," tambahnya.

Pentingnya Aspek Kemasan dan Kerja Sama dengan Industri

Selain bahan baku, Taruna juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap aspek kemasan obat yang dapat terdampak oleh situasi geopolitik. BPOM telah menjalin kerja sama dengan Gabungan Pengusaha Farmasi untuk mempersiapkan langkah mitigasi terkait hal ini. "Kita berpikir persoalan Selat Hormuz sudah selesai, ternyata masih terkatung-katung dan itu tetap membuahkan masalah. Oleh karena itu, kami juga telah bekerja sama dengan gabungan pengusaha farmasi untuk menindaklanjuti ini," jelasnya.

Meski demikian, Taruna meyakinkan bahwa dampak penutupan Selat Hormuz terhadap industri kosmetik nasional tidak sebesar pada sektor farmasi. Ia menjelaskan bahwa industri kosmetik di Indonesia lebih banyak memanfaatkan sumber daya lokal, seperti kekayaan biodiversitas dan mineral. "Kalau kosmetik, kita memiliki banyak potensi bahan baku dari biodiversitas dan mineral yang ada di Indonesia, sehingga ketergantungan impornya tidak sebesar industri obat," katanya.

Sebelumnya, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz tanpa batas waktu yang jelas. Keputusan ini diambil setelah sebuah kapal yang diduga mengabaikan instruksi pelayaran dihentikan dengan tembakan peringatan. Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita resmi IRNA, IRGC menyebutkan bahwa sejumlah kapal tetap melintasi jalur yang dilarang meskipun telah diperingatkan untuk mengubah haluan.

Dengan langkah-langkah yang diambil oleh BPOM, diharapkan pasokan obat di Indonesia tetap terjaga meskipun dalam situasi yang penuh tantangan ini.

Artikel Terkait