Harga emas di pasar global mengalami penurunan yang tajam, mencapai titik terendah dalam lebih dari dua pekan pada perdagangan yang berlangsung pada hari Kamis. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran akan inflasi, sementara para investor menunggu keputusan terkait kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang akan diumumkan pekan depan.
Menurut informasi dari CNBC, harga emas di pasar spot turun sebesar 2,2% menjadi US$ 4.051,55 per ons troy. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Desember juga mengalami penurunan sebesar 2% menjadi US$ 4.066,20 per ons troy.
Analisis Pasar dan Faktor Penyebab
Soni Kumari, seorang analis dari ANZ, menyatakan bahwa harga emas masih berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut di tengah ketidakpastian yang melanda pasar energi. “Harga emas bisa turun lebih jauh karena kita masih melihat banyak ketidakpastian di pasar energi,” ungkap Kumari.
Pada hari Kamis, harga minyak mentah Brent meningkat lebih dari US$ 2 per barel. Serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi di Arab Saudi menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik dan gangguan terhadap pasokan minyak mentah. Situasi ini berkontribusi pada peningkatan risiko inflasi. Meskipun emas sering kali dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas, karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Data Inflasi dan Prospek Kebijakan Suku Bunga
Tekanan terhadap harga emas juga muncul setelah data inflasi konsumen dan produsen di AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan angka yang lebih tinggi dari yang diperkirakan. Kenaikan biaya energi menjadi salah satu faktor pendorong inflasi tersebut. Hal ini memperkuat argumen bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Meskipun demikian, para pejabat bank sentral AS diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan yang dijadwalkan pada 27–28 Oktober 2026.
Goldman Sachs memprediksi bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember, sehingga kisaran suku bunga puncak dapat mencapai 4%–4,25%. Berdasarkan alat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan Desember sekitar 80%.
Para investor juga menunggu rilis data belanja konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS yang dijadwalkan pada 29 Oktober. Hamad Hussain, seorang ekonom di Capital Economics yang fokus pada iklim dan komoditas, menyatakan bahwa data tersebut berpotensi menunjukkan bahwa harga masih meningkat dengan laju yang terlalu tinggi bagi The Fed. “Mengingat data PCE akan menunjukkan bahwa harga naik dengan laju yang masih terlalu tinggi bagi The Fed, komunikasi FOMC bisa bernada hawkish dan hal itu dapat menekan harga emas,” kata Hussain.