Dana Moneter Internasional (IMF) menilai bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga berisiko memicu inflasi dan memperlebar kesenjangan di tengah lonjakan harga energi serta utang publik yang terus meningkat.
Kristalina Georgieva, selaku Direktur Pelaksana IMF, mengingatkan bahwa AI menjadi baik peluang maupun ancaman bagi perekonomian dunia. Meskipun teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, AI juga dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memperlebar jurang pemisah antarnegara.
Perubahan Ekonomi Global
Georgieva menyatakan bahwa AI dengan cepat menjadi pendorong utama dalam perubahan posisi negara-negara di peta ekonomi dunia. Namun, kemajuan teknologi ini terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya energi yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah dan peningkatan utang publik. "Suka atau tidak suka, AI sudah ada di sini," ujarnya.
Menurutnya, saat ini ekonomi global menghadapi dua tekanan yang saling bertentangan. Di satu sisi, konflik di kawasan Teluk mengganggu pasokan energi, sementara di sisi lain, lonjakan investasi dalam AI meningkatkan permintaan modal dan berpotensi memberikan dorongan positif bagi aktivitas ekonomi. Georgieva memperkirakan bahwa investasi AI dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian dunia, dengan potensi menambah hingga 0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi global setiap tahunnya.
Risiko Inflasi dan Utang Publik
Georgieva menjelaskan bahwa peningkatan dari 3 persen menjadi 3,5 persen dalam pertumbuhan ekonomi selama satu dekade setara dengan menambahkan skala ekonomi sebesar ASEAN ke dalam ekonomi global. Investasi global untuk AI diperkirakan akan mencapai atau bahkan melampaui nilai investasi infrastruktur tradisional seperti jalur kereta api, jaringan listrik, dan telekomunikasi. Saat ini, perangkat keras AI dan produk teknologi terkait telah mencakup lebih dari sepuluh persen perdagangan barang dunia.
Namun, manfaat dari investasi tersebut berisiko hanya akan terkonsentrasi pada negara dan perusahaan besar yang memiliki akses lebih terhadap teknologi dan rantai pasok. Negara-negara yang kurang terlibat dalam rantai pasok global berpotensi semakin tertinggal. Georgieva juga mengingatkan bahwa ledakan investasi AI dapat memicu inflasi, yang muncul bersamaan dengan kenaikan biaya energi, pangan, tarif perdagangan, dan belanja pertahanan.
Di luar perkembangan AI, konflik di Timur Tengah juga menambah ketidakpastian ekonomi. Harga minyak tetap berada di atas US$ 100 per barel, sementara harga solar eceran mencapai rekor tertinggi akibat terbatasnya pasokan energi hulu. Tekanan inflasi ini turut mempengaruhi pasar obligasi, dengan imbal hasil (yield) obligasi di Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
IMF juga menyoroti masalah utang publik global yang mendekati level tertinggi sejak Perang Dunia II, yang diperkirakan akan segera melampaui 100 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Georgieva menilai negara-negara maju sebagai salah satu penyumbang terbesar dalam peningkatan utang tersebut. Kenaikan suku bunga telah mengakhiri periode pembiayaan murah bagi pemerintah, membuat upaya untuk memangkas rasio utang melalui pertumbuhan ekonomi menjadi semakin sulit dalam jangka pendek.
Georgieva memperingatkan risiko stabilitas keuangan jika perusahaan-perusahaan besar yang mendukung AI gagal memenuhi target pendapatan. Besarnya utang korporasi dan konsentrasi kepemilikan saham di AS dapat memperbesar dampak gejolak pasar. Oleh karena itu, ia mendorong perlunya penguatan regulasi, pengawasan ketat, serta kebijakan moneter yang berhati-hati. Pemerintah di berbagai negara juga didesak untuk menyiapkan langkah fiskal yang kredibel demi menjaga keberlanjutan utang di tengah tekanan ekonomi global.