Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diperkirakan tidak akan mengambil alih posisi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dari putranya, Kaesang Pangarep, meskipun ada permintaan dari sejumlah kader partai. Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menyatakan bahwa Jokowi lebih memilih untuk mempertahankan Kaesang sebagai ketua umum dan membantu meningkatkan elektabilitas PSI melalui aktivitas politik di berbagai daerah.
Permintaan Kader dan Resiko Jabatan
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum PSI, Ronald Aristone Sinaga, yang akrab disapa Bro Ron, telah bertemu dengan Jokowi di kediamannya di Solo. Dalam pertemuan tersebut, Bro Ron menyampaikan bahwa banyak kader daerah yang menginginkan Jokowi untuk menduduki posisi struktural yang lebih tinggi, baik sebagai ketua umum maupun Ketua Dewan Pembina. Namun, Jamiluddin menilai bahwa Jokowi tidak akan mengambil alih jabatan tersebut karena hal itu berisiko merusak reputasi politik Kaesang.
"Permintaan Jokowi untuk menjadi ketua umum PSI tampaknya akan ditolak. Sebab, Jokowi tidak ingin merusak marwah anaknya, Kaesang, dengan mengambil alih posisi ketua umum," ungkap Jamiluddin di Jakarta.
Dampak Terhadap Karir Kaesang
Jamiluddin juga menambahkan bahwa jika Jokowi mengambil alih jabatan ketua umum, hal itu dapat berdampak negatif terhadap karir politik Kaesang. Ia berpendapat bahwa Kaesang bisa dianggap gagal jika digantikan oleh ayahnya. Oleh karena itu, Jamiluddin memperkirakan Jokowi akan memberikan kesempatan bagi Kaesang untuk memimpin dan mengembangkan PSI, sehingga keberhasilan partai dalam meraih suara dapat menjadi pencapaian politik bagi Kaesang.
“Jokowi ingin agar jika PSI berhasil masuk ke Senayan, itu merupakan prestasi Kaesang, bukan dirinya,” ujarnya. Untuk mendukung peningkatan elektabilitas PSI, Jamiluddin menyatakan bahwa Jokowi akan melanjutkan safari politik ke berbagai daerah di Indonesia. Langkah ini dianggap sebagai cara untuk memperkuat posisi PSI tanpa harus mengambil alih jabatan ketua umum dari Kaesang.
Dengan strategi ini, Jokowi tetap dapat memberikan pengaruh politik bagi PSI, sementara Kaesang tetap menjadi figur utama dalam kepemimpinan partai. "Karena itu, Jokowi tampaknya akan tetap mempertahankan Kaesang sebagai ketua umum PSI," tutup Jamiluddin.