🔴 Breaking
Nasional

Pertumbuhan Pasar Nikel Global Diperkirakan Mencapai 21,39% Hingga 2031, Hilirisasi Didorong untuk Produk Akhir

Pasar nikel dunia diprediksi akan mengalami peningkatan signifikan, memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri pengolahan dalam negeri melalui hilirisasi produk akhir.

Fehardian Rahaja

Penulis

18 October 2026
14 kali dibaca
Indonesia berpeluang besar untuk memperdalam rantai hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir (final product), bukan sekadar produk setengah jadi. (Dok. MIND ID)
Indonesia berpeluang besar untuk memperdalam rantai hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir (final product), bukan sekadar produk setengah jadi. (Dok. MIND ID)

Prospek pasar nikel global yang terus meningkat memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan industri pengolahan dalam negeri. Menurut proyeksi dari Shanghai Metals Market (SMM), permintaan nikel di seluruh dunia diperkirakan akan naik 21,39 persen, dari 3.717 kiloton (Kt Ni) pada tahun 2026 menjadi 4.512 Kt Ni pada tahun 2031. Sektor baterai dan baja nirkarat (stainless steel) menjadi pendorong utama dari kenaikan permintaan ini.

Tingginya permintaan nikel membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperdalam rantai hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir, bukan hanya produk setengah jadi. Imaduddin Abdullah, Direktur INDEF Green Transition Initiative (GTI), menilai bahwa lonjakan pasar nikel global harus dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri domestik. "Peningkatan permintaan nikel global ini peluang besar bagi Indonesia. Kuncinya, kita harus memperdalam hilirisasi sampai ke produk akhir, bukan berhenti di produk antara," ujarnya.

Pentingnya Hilirisasi untuk Keterkaitan Industri

Imaduddin menambahkan bahwa pengolahan hingga produk jadi akan memperkuat keterkaitan industri dan melibatkan rantai pasok lokal secara lebih luas. "Semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan oleh industri dan pemasok lokal di dalam negeri," jelasnya. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Rachmat Makkasau, Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA), yang menekankan bahwa penciptaan nilai tambah tertinggi memang terdapat pada sektor hilir.

Rachmat menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas produksi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir agar seluruh rantai pasok industri dalam negeri dapat mengoptimalkan nilai tambah. "Nilai tambah yang lebih tinggi itu ada pada industri hilir. Tugas utama kita sebenarnya mendorong peningkatan industri hilir di Indonesia," tegasnya.

Langkah Integrasi Hilirisasi oleh MIND ID

Integrasi hilirisasi ini mulai diwujudkan oleh Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Bersama konsorsium CATL–Brunp–Lygend, IBC mengembangkan fasilitas pabrik baterai di Karawang dengan kapasitas awal 6,9 GWh dan target ekspansi hingga 15 GWh. Proyek hilirisasi ekosistem baterai kendaraan listrik ini semakin lengkap dengan proyek yang diresmikan oleh Presiden di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang memproduksi material baterai berbasis nikel, baterai, aluminium elektrolit, dan alat berat berbasis listrik secara terintegrasi.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan kebijakan moratorium bagi smelter yang hanya menghasilkan produk antara. Langkah ini diambil untuk mengatasi ancaman oversupply nikel dunia yang mencapai sekitar 2,5 juta ton. Selain untuk menyeimbangkan pasokan, pengetatan regulasi ini juga bertujuan agar industri terdorong untuk menghasilkan produk akhir. "Sekarang kan hilirisasi itu kan yang kita inginkan adalah ending-nya nilai tambah 100% di sini (dalam negeri)," tegas Bahlil di KESDM, pada Jumat (17/10/2026).

Artikel Terkait