🔴 Breaking
Penurunan Harga Emas Antam pada 19 Agustus 2026 Sebesar Rp 50.000, Berikut Rinciannya Gempa M 7,7 di NTT, Dua Rumah Sakit Lapangan Dikerahkan untuk Penanganan Kesehatan Kesempatan Berkarir di Unilever Indonesia, Simak Syarat dan Proses Pendaftarannya Studi Mengungkap Pekerja Bergaji Rendah Memiliki Risiko Kematian yang Lebih Tinggi Pembentukan Tim Khusus untuk Memfasilitasi PT Timah dalam Pembelian Produksi Lokal Olahraga Rutin: Mitos atau Fakta dalam Mencegah Aritmia Jantung? Miliarder Termuda Eropa: James Dacombe, Gen Z yang Membangun Kekayaan Sendiri Dampak Minum Kopi Harian Terhadap Kesehatan Ginjal Dorongan untuk GenZu 2026: Membangun Impian dan Berorganisasi di UIN Saizu --- Pemecatan Kepala Ekonom Bank VEB Terkait Kritik Terhadap Perang Ukraina --- Penurunan Harga Emas Antam pada 19 Agustus 2026 Sebesar Rp 50.000, Berikut Rinciannya Gempa M 7,7 di NTT, Dua Rumah Sakit Lapangan Dikerahkan untuk Penanganan Kesehatan Kesempatan Berkarir di Unilever Indonesia, Simak Syarat dan Proses Pendaftarannya Studi Mengungkap Pekerja Bergaji Rendah Memiliki Risiko Kematian yang Lebih Tinggi Pembentukan Tim Khusus untuk Memfasilitasi PT Timah dalam Pembelian Produksi Lokal Olahraga Rutin: Mitos atau Fakta dalam Mencegah Aritmia Jantung? Miliarder Termuda Eropa: James Dacombe, Gen Z yang Membangun Kekayaan Sendiri Dampak Minum Kopi Harian Terhadap Kesehatan Ginjal Dorongan untuk GenZu 2026: Membangun Impian dan Berorganisasi di UIN Saizu --- Pemecatan Kepala Ekonom Bank VEB Terkait Kritik Terhadap Perang Ukraina ---
Ekonomi

Proyek Gedung Tertinggi Australia Senilai Rp19,2 Triliun Dibatalkan Karena Nama Trump

Rencana pembangunan Trump Tower di Queensland, Australia, senilai USD 1,1 miliar terpaksa dibatalkan, dengan pengembang menyalahkan kontroversi nama Trump sebagai penyebabnya.

Bima Sakti

Penulis

13 May 2026
86 kali dibaca
Rencana pembangunan Trump Tower senilai USD 1,1 miliar (Rp 19,2 triliun) di Queensland, Australia kini tinggal kenangan. @erictrump?X
Rencana pembangunan Trump Tower senilai USD 1,1 miliar (Rp 19,2 triliun) di Queensland, Australia kini tinggal kenangan. @erictrump?X

Rencana pembangunan Trump Tower yang bernilai USD 1,1 miliar (setara Rp 19,2 triliun) di Queensland, Australia, kini hanya menjadi kenangan setelah proyek tersebut dibatalkan. Gedung yang direncanakan menjadi yang tertinggi di Australia ini seharusnya memiliki ketinggian 335 meter (1.100 kaki) dan terdiri dari 91 lantai, lebih tinggi dari gedung Shard di London.

Pembatalan proyek ini terjadi hanya tiga bulan setelah kesepakatan pembangunan diumumkan. Pengembang asal Australia menyatakan bahwa nama Trump yang penuh kontroversi, serta situasi perang Iran, menjadi faktor utama di balik keputusan ini. Menurut laporan BBC, detail mengenai proyek tersebut kini telah dihapus dari situs resmi Trump Organization.

Perselisihan Antara Pengembang dan Trump Organization

Seorang juru bicara dari Trump Organization menyebutkan bahwa pembatalan proyek disebabkan oleh ketidakmampuan pengembang untuk memenuhi kewajiban yang telah disepakati. Namun, klaim ini dibantah oleh Altus Property Group, pengembang yang terlibat dalam proyek tersebut. Mereka menegaskan bahwa proyek akan dilanjutkan dengan nama merek mewah yang berbeda.

David Young, Kepala Eksekutif Altus Property Group, menyatakan, "Mari kita katakan saja bahwa dengan perang Iran dan semua hal lainnya, merek Trump semakin 'toxic' di Australia. Beberapa waktu lalu kami tahu pada akhirnya akan selesai (kesepakatan). Ini bukan tentang tidak memenuhi kewajiban. Ada pilihan merek mewah lain untuk kami. Proyek ini sedang berjalan."

Komentar Trump Terkait Perang Iran

Dalam konteks perang Iran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi kritis. Dalam pernyataannya, Trump menyebutkan, "Gencatan senjata saat ini berada pada titik terlemahnya, setelah saya membaca sampah itu." Dia juga mengkritik Iran karena lambat dalam memberikan respons terhadap proposal AS untuk mengakhiri konflik.

Trump menambahkan, "Mereka mengirimkan dokumen ini kepada kami setelah kami menunggu selama empat hari, padahal seharusnya itu bisa diselesaikan dalam 10 menit." Ia juga menegaskan bahwa Iran telah menjanjikan untuk tidak memiliki senjata nuklir dalam jangka waktu yang lama, tetapi tidak dapat memenuhi kesepakatan tersebut.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan solusi diplomatik dengan Iran, Trump menyatakan, "Saya pikir itu sangat mungkin." Ia juga mengklaim bahwa pejabat Iran telah menyampaikan pesan mengenai apa yang disebutnya sebagai "debu nuklir" setelah serangan AS, dan menegaskan bahwa lokasi yang diserang telah hancur total, sehingga sulit untuk mengambil material dari sana.

Trump menyimpulkan bahwa hanya ada satu atau dua negara di dunia yang mungkin bisa mengambil material tersebut, dan menegaskan bahwa Iran dan China adalah satu-satunya yang dapat melakukannya.

Artikel Terkait