Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, atau yang dikenal dengan BI Rate, terbuka lebar pada semester pertama tahun 2026 setelah nilai tukar rupiah melemah ke level 17.500 per dolar AS. Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan bahwa BI Rate bisa meningkat sebesar 25 basis poin menjadi 5%.
Faisal Rachman, Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Permata Bank, menyatakan bahwa proyeksi ini muncul setelah lembaga tersebut merevisi pandangan mengenai kebijakan moneter untuk tahun depan. "Kita telah melakukan revisi bahwa di tahun 2026 ini kemungkinan ruang kenaikan BI-Rate itu ada. Jadi, kita proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 (basis) poin di semester pertama,” ujarnya dalam acara Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026 yang berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026.
Keputusan Rapat Dewan Gubernur
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diadakan pada 21-22 April 2026, lembaga tersebut memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada angka 4,75%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility ditetapkan sebesar 3,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. BI telah menjaga BI Rate tetap stabil selama empat bulan terakhir sejak awal tahun, dan RDG berikutnya dijadwalkan pada 19 dan 20 Mei 2026.
Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Suku Bunga
Faisal menambahkan bahwa proyeksi kenaikan BI Rate terkait erat dengan tekanan yang dihadapi nilai tukar rupiah. Saat ini, rupiah tercatat telah melemah lebih dari 4% terhadap dolar AS. Data perdagangan pada Selasa sore, 12 Mei 2026, menunjukkan rupiah berada di level Rp 17.529 per dolar AS, turun 115 poin dari posisi sebelumnya.
Secara historis, Bank Indonesia cenderung mempertimbangkan pengetatan suku bunga ketika depresiasi rupiah telah mencapai lebih dari 3%. Hal ini dianggap sebagai sinyal penting bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. "Apalagi, kalau kita lihat SRBI itu rate-nya sudah cukup meningkat terus ke atas. Jadi, ini kita perlu antisipasi,” jelas Faisal.
PIER mengidentifikasi tiga faktor utama yang akan mempengaruhi keputusan suku bunga Bank Indonesia ke depan. Pertama, potensi kenaikan inflasi domestik. Kedua, risiko pelebaran defisit transaksi berjalan. Ketiga, arah kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Meskipun pasar sempat menangkap sinyal pelonggaran kebijakan dari hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini masih terbatas.
Faisal menilai bahwa pelaku pasar global masih memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi hingga akhir tahun ini, sebelum kemungkinan penurunan dibuka pada periode berikutnya. "Kalau dari sisi globalnya, yang terletak di sisi advance rate, sebenarnya market masih akan cenderung melihat efek itu tidak akan mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun ini, dan baru membuka kemungkinan pemotongan itu di akhir tahun depan,” pungkasnya.