🔴 Breaking
Teknologi

Rencana Ambisius China untuk Menjadi Pemimpin Kecerdasan Buatan Global

Pemerintah China baru saja mengumumkan peta jalan untuk mencapai ambisi menjadi pemimpin dalam bidang kecerdasan buatan (AI) dalam lima tahun ke depan. Rencana ini merupakan bagian dari cetak biru tek...

Galang Mahesa

Penulis

22 June 2026
63 kali dibaca
Rencana Ambisius China untuk Menjadi Pemimpin Kecerdasan Buatan Global
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Pemerintah China telah merilis peta jalan yang bertujuan untuk menjadikannya sebagai pemimpin dunia dalam kecerdasan buatan (AI) dalam waktu lima tahun ke depan. Rencana ini dijelaskan dalam cetak biru teknologi terbaru yang merupakan bagian dari Rencana Lima Tahun ke-15, yang berlaku hingga tahun 2030. Dalam dokumen tersebut, pemerintah Beijing menetapkan AI sebagai fondasi utama untuk pengembangan berbagai teknologi masa depan, termasuk robot humanoid, mobil terbang, dan teknologi yang memungkinkan koneksi langsung antara otak manusia dan komputer (brain-computer interface).

Target Ambisius dalam Ekonomi

Salah satu target paling ambisius yang ditetapkan adalah menjadikan AI sebagai bagian dari 90 persen aktivitas ekonomi nasional pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya akan digunakan sebagai chatbot atau asisten virtual, tetapi juga diharapkan menjadi teknologi inti yang mendukung industri manufaktur, operasional bisnis, layanan publik, dan berbagai sektor ekonomi lainnya.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah China berencana melakukan investasi besar-besaran yang mencapai miliaran dolar AS di berbagai bidang teknologi strategis. Beberapa sektor yang menjadi prioritas mencakup pengembangan robot humanoid yang dapat membantu pekerjaan manusia, serta sistem AI untuk otomatisasi tugas rutin. Selain itu, teknologi masa depan seperti fusi nuklir, komputasi kuantum untuk eksplorasi luar angkasa, biomanufaktur, dan jaringan komunikasi 6G juga menjadi fokus utama. China juga akan mempercepat pengembangan industri penerbangan rendah, termasuk mobil terbang dan layanan pengiriman menggunakan drone.

Inovasi dan Tantangan dalam Pengembangan AI

Teknologi brain-computer interface yang memanfaatkan AI untuk menerjemahkan sinyal saraf menjadi perintah digital juga termasuk dalam rencana ini. Meskipun terlihat beragam, hampir semua teknologi yang direncanakan memiliki satu kesamaan, yaitu AI sebagai mesin utama yang mengendalikan berbagai sistem. Pemerintah China tampaknya ingin AI tidak hanya hadir dalam bentuk layanan digital, tetapi juga menjadi "otak" bagi berbagai perangkat dan infrastruktur yang digunakan oleh masyarakat dan industri.

Gambaran ini sudah mulai terlihat di China, di mana produsen otomotif mulai menyematkan asisten AI dan fitur mengemudi pintar pada kendaraan mereka. Di sisi lain, model AI pembuat video terbaru dari China bahkan telah memicu kekhawatiran di industri perfilman Hollywood karena kemampuannya dalam menghasilkan video yang sangat realistis.

Selain melakukan investasi besar, China juga mengadopsi strategi yang berbeda dibandingkan dengan banyak perusahaan AI asal Amerika Serikat. Sebagian besar model AI yang dikembangkan di China bersifat open-source, yang memungkinkan pengembang lain untuk mengunduh, menggunakan, dan memodifikasi secara bebas. Pendekatan ini berbeda dengan banyak model AI terkemuka dari AS yang umumnya bersifat tertutup dan hanya dapat diakses melalui layanan berbayar.

Namun, meskipun memiliki target yang ambisius, jalan China untuk menjadi pemimpin AI dunia tidak sepenuhnya mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketergantungan pada chip AI berperforma tinggi yang diperlukan untuk melatih dan menjalankan model AI dalam skala besar. Saat ini, teknologi chip AI kelas atas masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat. Sejak tahun 2022, pemerintah AS juga telah membatasi ekspor chip AI canggih ke China sebagai bagian dari persaingan teknologi antara kedua negara.

Kondisi ini mendorong China untuk mempercepat pengembangan industri semikonduktor dalam negeri agar tidak lagi bergantung pada pasokan chip dari luar negeri. Meskipun demikian, kemampuan chip AI yang diproduksi di China masih dianggap tertinggal. Analisis dari Council on Foreign Relations menunjukkan bahwa chip AI terbaik yang diproduksi oleh Huawei memiliki performa sekitar lima kali lebih rendah dibandingkan chip AI tercanggih yang ada di Amerika Serikat.

Artikel Terkait