Pada hari ini, 25 Juni 2026, harga emas yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Berdasarkan informasi dari Logam Mulia, harga emas Antam tetap berada di angka Rp 2.655.000 per gram, sama seperti yang tercatat pada hari sebelumnya.
Sementara itu, harga buyback emas Antam mengalami penurunan yang cukup tajam, dengan nilai yang berkurang sebesar Rp 52.000 menjadi Rp 2.320.000 per gram. Harga buyback ini adalah nilai yang akan diterima oleh pemilik emas jika mereka menjual kembali emasnya kepada Antam.
Rekor Harga Emas Sebelumnya
Harga emas Antam pernah mencapai rekor tertinggi pada 29 Januari 2026, dengan harga mencapai Rp 3.168.000 per gram. Pada saat itu, harga buyback tercatat di level Rp 2.989.000 per gram. Data mengenai harga emas Antam ini diambil dari situs resmi Logam Mulia, yang merupakan unit bisnis dari PT Aneka Tambang Tbk, sehingga dapat dipastikan akurasi dan kredibilitasnya.
Pergerakan Harga Emas Global
Di sisi lain, harga emas dunia mengalami penurunan yang signifikan pada perdagangan Rabu, yang berlanjut hingga Kamis waktu Jakarta, dengan harga sempat menembus level psikologis di US$ 4.000 per troy ons. Penurunan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Menurut laporan dari CNBC, harga emas di pasar spot turun sebesar 2,9% menjadi US$ 3.981,21 per troy ons, setelah mencapai level terendah sejak November 2025. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 3,4% di angka US$ 4.008,80 per troy ons. Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas, karena ketika dolar menguat, emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga mengurangi permintaan.
Pelaku pasar semakin yakin bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Keyakinan ini semakin kuat setelah bank sentral AS mengadopsi nada yang lebih agresif dalam pertemuan kebijakan moneternya yang terbaru, ditambah dengan kekhawatiran inflasi akibat dampak perang Iran terhadap pasar energi global.
Seorang trader logam mulia independen, Tai Wong, menyatakan bahwa kombinasi dari sikap hawkish The Fed, penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam 13 bulan terakhir, serta menurunnya ekspektasi inflasi memberikan tekanan besar terhadap pasar logam mulia. Ia menambahkan, “Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga secepatnya pada September. Penguatan dolar dan perubahan ekspektasi inflasi menjadi faktor utama yang menekan harga emas.”
Emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga ketika suku bunga naik, investor cenderung beralih ke instrumen yang menawarkan return lebih tinggi. Meskipun demikian, Wong berpendapat bahwa harga emas masih memiliki area dukungan yang kuat di bawah level US$ 3.900 per troy ons. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral dari berbagai negara masih berlangsung, sehingga potensi penurunan harga yang lebih dalam dianggap relatif terbatas.
Wong menambahkan, “Keruntuhan harga emas tampaknya kecil kemungkinannya terjadi. Namun pasar kemungkinan akan memasuki periode konsolidasi yang cukup panjang karena minat investor terhadap emas saat ini mulai berkurang.” Harga emas sendiri telah mengalami koreksi lebih dari US$ 1.600 per troy ons sejak mencapai rekor tertinggi di level US$ 5.594,82 per troy ons pada akhir Januari 2026.