Tempe, yang merupakan makanan khas Indonesia, kini tidak hanya menjadi lauk sehari-hari, tetapi juga semakin diminati di berbagai belahan dunia. Makanan fermentasi berbahan dasar kedelai ini mulai dilihat sebagai simbol keberlanjutan, kaya gizi, dan memiliki nilai budaya yang tinggi.
Selama bertahun-tahun, tempe sering dianggap sebagai makanan biasa di Indonesia, bahkan sering kali dipandang sebelah mata. Namun, pandangan ini kini berubah drastis. Menurut Wida Winarno, seorang pegiat fermentasi pangan, perubahan persepsi ini tidak terjadi secara cepat. Ia menjelaskan bahwa pada awal gerakan promosi tempe, banyak orang yang belum menyadari nilai dari makanan ini. "Di kalangan masyarakat itu tempe seperti sesuatu yang direndahkan... orang-orang menganggap ini sesuatu yang murah, kelas dua," ungkapnya. Kini, tempe justru dihargai tinggi di luar negeri, menjadikannya produk eksotis.
Data global menunjukkan bahwa nilai pasar tempe dunia mencapai sekitar US$ 5,1 miliar pada tahun 2023 dan diperkirakan akan tumbuh menjadi US$ 7,6 miliar pada tahun 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya minat terhadap pola makan berbasis nabati dan kesadaran akan pentingnya pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Tempe kini diproduksi di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang, dan telah bertransformasi menjadi produk protein nabati premium.
Tren pola makan berbasis nabati yang semakin berkembang juga berkontribusi pada popularitas tempe. Banyak orang di seluruh dunia mulai mengurangi konsumsi produk hewani dan beralih ke sumber protein alternatif yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Dalam konteks ini, tempe menjadi pilihan yang menonjol berkat proses fermentasi alami yang sederhana.
Wida menambahkan bahwa daya tarik tempe tidak hanya terletak pada asal-usulnya yang unik, tetapi juga pada fungsinya yang relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini. Tempe dikenal sebagai sumber protein nabati berkualitas, dengan kandungan sekitar 19 gram protein dalam 100 gram. Proses fermentasi juga meningkatkan kecernaan protein dan memudahkan penyerapan nutrisi oleh tubuh.
Dengan meningkatnya kesadaran global terhadap kesehatan dan keberlanjutan, tempe memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari sistem pangan masa depan. Wida menyoroti bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat dunia menjadi faktor utama yang membuat tempe semakin relevan. "Dengan perkembangan plant-based food, orang-orang semakin peduli pada lingkungan dan mulai mencari produk yang benar-benar berasal dari tumbuhan," tuturnya.
Tempe, sebagai produk fermentasi berbasis kedelai, tidak hanya menawarkan kandungan protein yang tinggi tetapi juga proses produksi yang efisien dan ramah lingkungan. Nilai tempe di mata dunia tidak hanya terletak pada aspek gizi dan keberlanjutan, tetapi juga pada keasliannya sebagai makanan tradisional yang tetap relevan di era modern.
Dengan kombinasi antara kealamian, gizi, dan keberlanjutan, tempe memiliki peluang besar untuk terus berkembang di pasar global. Dari dapur sederhana di Indonesia, tempe kini melangkah lebih jauh sebagai bagian dari solusi pangan dunia.