Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengajukan permohonan untuk pembebasan segera dan tanpa syarat bagi semua individu yang ditahan secara sewenang-wenang di Myanmar. Seruan ini disampaikan setelah pemindahan Penasihat Negara, Daw Aung San Suu Kyi, ke lokasi kediaman yang ditentukan.
Wakil juru bicara Guterres, Farhan Haq, menyatakan bahwa seruan ini merupakan langkah penting menuju terciptanya kondisi yang mendukung proses politik yang kredibel. Guterres juga menekankan bahwa solusi politik yang efektif harus didasarkan pada penghentian kekerasan secara segera dan komitmen untuk dialog yang inklusif.
Lebih lanjut, Guterres menyoroti pentingnya peran mitra regional dan internasional, terutama Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), dalam mendukung upaya penyelesaian damai di Myanmar. Negara tersebut masih menghadapi ketidakstabilan politik sejak kudeta militer pada tahun 2021, yang mengakibatkan penahanan para pemimpin sipil dan memicu protes serta konflik berkepanjangan di seluruh negeri.
Dengan situasi yang terus berkembang, seruan Guterres diharapkan dapat mendorong tindakan nyata untuk mengakhiri kekerasan dan memfasilitasi dialog yang konstruktif di Myanmar.