Penyakit jantung bawaan adalah kelainan yang terjadi pada struktur jantung yang terbentuk sejak bayi masih berada di dalam rahim. Menurut dokter spesialis jantung anak dari BraveHeart Brawijaya Hospital, dr Anisa Rahmadhany, SpA, Subsp.Kardio(K), setiap tahun sekitar 1 persen atau sekitar 50 ribu anak lahir dengan kondisi ini.
Secara umum, penyakit jantung bawaan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tipe biru (sianotik) dan tipe tidak biru (asianotik), yang masing-masing memiliki gejala yang berbeda. Untuk penyakit jantung bawaan tipe biru, gejala yang paling mudah dikenali adalah perubahan warna kebiruan pada bibir dan mukosa lidah, yang disebabkan oleh rendahnya kadar oksigen dalam darah.
Gejala Penyakit Jantung Bawaan Tipe Biru
“Kalau biru berarti kelihatan biru anaknya. Tahunya biru dari mana? Kita gampangnya lihatnya di bibir sama mukosa lidah,” jelas dr Anisa dalam tayangan detikSore. Dia juga menambahkan bahwa saat pandemi COVID-19, banyak orang yang menggunakan pulse oximeter untuk mengecek saturasi oksigen, di mana jika hasilnya di bawah 95 persen, itu menandakan adanya cyanosis atau kebiruan.
Selain tampak kebiruan, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan juga cenderung mudah lelah, yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Kondisi ini dapat menyebabkan berat badan sulit naik, tinggi badan tidak bertambah secara optimal, serta perkembangan otak yang terhambat akibat kekurangan oksigen.
Gejala Penyakit Jantung Bawaan Tipe Tidak Biru
Sementara itu, untuk penyakit jantung bawaan tipe tidak biru, gejalanya sering kali lebih sulit dikenali, terutama pada bayi. Dr Anisa menjelaskan bahwa aktivitas utama bayi adalah menyusu, sehingga kemampuan bayi dalam menyusu dapat menjadi indikator awal adanya masalah pada jantung.
“Kalau yang tidak biru, beda lagi gejalanya. Kalau bayi kan aktivitas, tidak lari-larian, tidak naik turun tangga. Jadi aktivitas bayi adalah minum susu. Minum susu itu sudah kayak lari,” katanya. Oleh karena itu, orang tua perlu waspada jika bayi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyusu, cepat lelah saat menyusu, atau tidak mampu menghabiskan susu seperti biasanya.
“Kalau susunya cepat habis, kalau misalnya tidak ya hati-hati nih, dia ada penyakit jantung bawaan misalnya. Kalau minum susunya kurang, berat badannya susah naik,” tambahnya.