🔴 Breaking
Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Soeharto, IMF, dan Pelajaran bagi Indonesia Hari Ini: Ketika Kedaulatan Ekonomi Jadi Sorotan Publik Di Tengah Gelombang Kritik dan Provokasi, Pemerintah Terus Jalankan Program untuk Rakyat BEM Nusantara DIY Gelar Ruang Perempuan dalam Peringatan Hari Buku Nasional 2026 BPOM Menyatakan Bogor-Depok Dalam Keadaan Darurat Penyalahgunaan Obat Danantara Luncurkan BUMN Baru untuk Pengelolaan Transaksi Ekspor Meta Lakukan PHK Besar-besaran, Karyawan di Singapura Terima Email Pemecatan Dini Hari Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Soeharto, IMF, dan Pelajaran bagi Indonesia Hari Ini: Ketika Kedaulatan Ekonomi Jadi Sorotan Publik Di Tengah Gelombang Kritik dan Provokasi, Pemerintah Terus Jalankan Program untuk Rakyat BEM Nusantara DIY Gelar Ruang Perempuan dalam Peringatan Hari Buku Nasional 2026 BPOM Menyatakan Bogor-Depok Dalam Keadaan Darurat Penyalahgunaan Obat Danantara Luncurkan BUMN Baru untuk Pengelolaan Transaksi Ekspor Meta Lakukan PHK Besar-besaran, Karyawan di Singapura Terima Email Pemecatan Dini Hari
Kesehatan

Waspadai Post Holiday Blues yang Berpotensi Menjadi Depresi

Post Holiday Blues merupakan kondisi yang kerap dialami setelah masa liburan, dan jika diabaikan, dapat berlanjut menjadi depresi serius.

Fayra Nugroho

Penulis

27 March 2026
47 kali dibaca
Waspadai Post Holiday Blues yang Berpotensi Menjadi Depresi
Sumber gambar: health.detik.com

Setelah masa liburan yang penuh keceriaan, banyak orang mengalami perasaan cemas dan sedih yang dikenal dengan istilah Post Holiday Blues. Fenomena ini terjadi ketika individu kembali ke rutinitas harian mereka setelah menikmati waktu libur dan berkumpul bersama orang-orang terkasih. Perubahan suasana yang tiba-tiba ini dapat memicu perasaan kehilangan yang mendalam dan memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Post Holiday Blues umumnya ditandai dengan gejala seperti kelelahan, kehilangan semangat, dan kesulitan berkonsentrasi. Menurut Dr. Andini, seorang psikolog, "Banyak orang merasa kesepian dan cemas saat kembali ke rutinitas setelah liburan. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh perubahan lingkungan, tetapi juga karena ekspektasi tinggi yang tidak terpenuhi." Kembali kepada kenyataan setelah menikmati waktu bersenang-senang bisa menjadi hal yang sangat menantang.

Kondisi ini dapat berlanjut menjadi depresi jika tidak ditangani dengan baik. Gejala depresi yang lebih serius meliputi perubahan pola tidur, penurunan minat dalam melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai, dan perasaan putus asa. Menyikapi hal ini, penting bagi setiap individu untuk mengenali tanda-tanda awal dan mengambil langkah yang tepat untuk mengatasinya.

Mengatasi Post Holiday Blues memerlukan perhatian khusus. Dr. Andini merekomendasikan beberapa langkah, seperti menjaga komunikasi dengan teman dan keluarga, menjadwalkan kegiatan positif, serta berolahraga secara teratur. "Aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan mood karena memicu pelepasan endorfin," tambahnya. Selain itu, mencari dukungan profesional dari psikolog atau konselor juga bisa menjadi pilihan bagi mereka yang merasa kesulitan dalam menghadapi perubahan suasana hati.

Kondisi ini dapat memengaruhi siapa saja, tanpa memandang usia atau latar belakang. Sebuah survei menunjukkan bahwa sekitar 50% individu mengalami gejala Post Holiday Blues dalam berbagai tingkat intensitas. Masyarakat perlu lebih menyadari bahwa perasaan ini adalah hal yang wajar, namun harus dihadapi dengan serius agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih besar.

Di akhir pembicaraan, Dr. Andini menyatakan, "Penting untuk memahami bahwa liburan memberikan kebahagiaan sementara, tetapi rutinitas memerlukan penyesuaian yang baik untuk kesejahteraan mental." Dengan cara ini, individu bisa lebih siap menghadapi tantangan pasca-liburan dan menjaga kesehatan mental mereka tetap stabil.

Dalam menghadapi Post Holiday Blues, kesadaran dan dukungan sosial yang baik adalah kunci. Mengapa hal ini penting? Karena dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat mencegah kondisi ini berlanjut menjadi depresi yang lebih parah. Oleh karena itu, mari kita lebih peka terhadap perubahan emosi kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita, terutama di masa transisi seperti ini.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait