🔴 Breaking
Kesehatan

Lonjakan Kasus Suspek Ebola di RD Kongo, 136 Meninggal Dunia

Jumlah kasus suspek Ebola di Republik Demokratik Kongo meningkat menjadi 543, dengan 136 kematian dilaporkan. Saat ini, baru 32 kasus yang terkonfirmasi sebagai strain Bundibugyo.

Sabina Almira

Penulis

20 May 2026
15 kali dibaca
Lonjakan Kasus Suspek Ebola di RD Kongo, 136 Meninggal Dunia
Foto: Fusion Medical Animation/Unsplash

Jakarta - Kasus suspek Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) mengalami lonjakan signifikan, mencapai 543 orang, di mana 136 di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, baru 32 kasus yang terkonfirmasi sebagai strain Bundibugyo, yang saat ini tidak memiliki terapi atau vaksin yang tersedia. Menteri Kesehatan RD Kongo, Roger Kamba, menyatakan bahwa investigasi mengenai asal wabah masih berlangsung, dan hingga saat ini, sumber wabah tersebut masih belum jelas.

Di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Adelheid Marschang Ancia, mengungkapkan bahwa otoritas kesehatan belum berhasil mengidentifikasi 'patient zero' atau kasus pertama dari wabah ini. "Yang kami ketahui saat ini adalah pada 5 Mei ada seseorang yang meninggal di Bunia," ujarnya, menambahkan bahwa jenazah tersebut kemudian dibawa ke Mongbwalu, di mana prosesi pemakaman mungkin telah memicu penularan lebih lanjut.

Kesulitan dalam Menemukan Kasus Indeks

Sebelumnya, Direktur Jenderal Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Jean Kaseya, menyatakan bahwa kasus indeks dari wabah ini belum ditemukan. "Wabah ini dimulai pada April. Sampai sekarang kami belum mengetahui kasus indeksnya. Itu berarti kami belum tahu seberapa besar skala wabah ini," ungkap Kaseya pada 16 Mei. Hasil sequencing menunjukkan bahwa virus yang beredar saat ini berasal dari hutan, yang mengindikasikan adanya kontaminasi baru dari alam liar, bukan kemunculan rantai virus lama.

Roger Kamba juga mengakui adanya penolakan dari masyarakat di beberapa daerah yang terdampak. Beberapa keluarga awalnya meyakini bahwa penyakit ini disebabkan oleh kutukan atau kekuatan mistis, bukan oleh virus. Hal ini menyebabkan pelaporan yang terlambat dan memperluas penyebaran penyakit. Namun, seiring dengan pemerintah yang menetapkan status wabah dan memberikan penjelasan kepada publik, rumor tersebut mulai berkurang.

Strain Bundibugyo dan Tantangan Vaksin

Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo dari virus Ebola, jenis yang lebih jarang ditemukan dan pertama kali diidentifikasi di Uganda pada tahun 2007, yang kemudian memicu wabah di wilayah Isiro, RD Kongo, pada tahun 2012. Menurut Jean-Jacques Muyembe, Direktur Jenderal National Institute of Biomedical Research, hasil pemetaan genom menunjukkan bahwa virus yang saat ini beredar merupakan varian Bundibugyo Ebola yang berbeda dari varian yang ditemukan di Uganda pada 2007 maupun di RD Kongo pada 2012.

Kamba menekankan bahwa kekhawatiran muncul akibat belum adanya vaksin dan pengobatan khusus untuk mengatasi wabah ini. Meskipun demikian, RD Kongo memiliki pengalaman yang panjang dalam menangani Ebola. Ia menyebutkan bahwa respons akan difokuskan pada deteksi cepat, isolasi pasien, perlindungan tenaga kesehatan, serta pemakaman yang aman. Kelompok penasihat teknis WHO dijadwalkan mengadakan pertemuan untuk membahas kandidat vaksin potensial. Ancia menyebutkan bahwa Ervebo, vaksin untuk virus Ebola strain Zaire, sedang dipertimbangkan, meskipun diperkirakan baru akan tersedia dalam waktu sekitar dua bulan.

Sementara itu, Kaseya menyebutkan bahwa ada tiga kandidat vaksin yang sedang ditinjau, termasuk Ervebo. Untuk saat ini, Ervebo mungkin dapat memberikan tingkat 'perlindungan silang' terhadap strain Bundibugyo, tetapi studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya. Muyembe menambahkan bahwa beberapa kandidat vaksin sebenarnya sudah memasuki tahap penelitian, tetapi pengembangannya memerlukan waktu. "Pada saat epidemi berakhir, mungkin kita baru menemukan vaksinnya," ujarnya.

Wabah ini muncul di wilayah yang sebelumnya sudah terbebani oleh konflik, pengungsian, dan lemahnya kapasitas layanan kesehatan. Badan Pengungsi PBB melaporkan bahwa sebanyak 11 ribu pengungsi asal Sudan Selatan di Ituri memerlukan bantuan pencegahan, sementara lebih dari 2.000 pengungsi dari Rwanda dan Burundi di Goma membutuhkan perlengkapan sanitasi. Kasus terkonfirmasi juga ditemukan di Butembo dan Goma di provinsi Kivu Utara, di mana Goma merupakan salah satu kota terbesar di timur RD Kongo dan juga merupakan kota perbatasan penting dengan Rwanda.

Juru bicara pemerintah, Patrick Muyaya, menyatakan bahwa penguasaan Goma oleh kelompok pemberontak menghambat pengawasan epidemiologi, pelacakan kontak, dan pengiriman sampel, karena kota tersebut memiliki salah satu laboratorium terbaik di negara tersebut. Uganda juga telah mengonfirmasi dua kasus impor di Kampala, termasuk satu kematian. Pada hari Minggu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menetapkan wabah di RD Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern karena kekhawatiran terhadap 'skala dan kecepatan' penyebaran epidemi.

Africa CDC kemudian menetapkan wabah tersebut sebagai Public Health Emergency of Continental Security, yang diharapkan dapat memperkuat koordinasi regional dan mempercepat mobilisasi sumber daya. Negara-negara tetangga seperti Rwanda, Burundi, dan Tanzania juga meningkatkan pengawasan, pemeriksaan perbatasan, serta langkah kesiapsiagaan darurat. Menurut sumber lokal, Rwanda telah menangguhkan pergerakan melalui sejumlah jalur utama yang menghubungkan Goma dan kota perbatasan Gisenyi di Rwanda, dengan hanya warga negara masing-masing yang diperbolehkan melintas untuk kembali ke negaranya.

Artikel Terkait