Kepemilikan Zhang Yiming, pendiri ByteDance yang merupakan perusahaan induk TikTok, kini mencatatkan dirinya sebagai orang terkaya di Asia dengan total kekayaan mencapai 105 miliar dollar AS, setara dengan Rp 1.857 triliun. Informasi ini diperoleh dari Bloomberg Billionaires Index per tanggal 17 September 2026. Dalam skala global, Yiming menempati posisi ke-18 dalam daftar orang terkaya dunia versi Bloomberg.
Kekayaan yang dimiliki Yiming sebagian besar berasal dari sahamnya di ByteDance. Perusahaan yang didirikannya ini telah berkembang dari platform media sosial TikTok hingga memasuki sektor kecerdasan buatan (AI). Selama beberapa tahun terakhir, kekayaan Yiming mengalami lonjakan yang signifikan. Ketika Bloomberg mulai mencatat kekayaannya pada Maret 2019, nilai kekayaannya hanya sekitar 13 miliar dollar AS. Ini menunjukkan bahwa dalam waktu tersebut, kekayaannya telah meningkat lebih dari delapan kali lipat.
Dari TikTok ke Sektor AI
ByteDance dikenal luas melalui TikTok, aplikasi video pendek yang memiliki jangkauan global. Kesuksesan TikTok menjadi landasan bagi ByteDance untuk memperluas bisnis ke bidang kecerdasan buatan. Saat ini, perusahaan ini sedang mengembangkan berbagai produk berbasis AI, termasuk Doubao, chatbot AI, dan Seedance, model untuk menghasilkan video. Ekspansi ini membuka peluang pertumbuhan baru bagi ByteDance di luar bisnis video pendek.
Lian Jye Su, kepala analis di perusahaan riset Omdia, menyatakan bahwa Yiming tetap berfokus pada investasi di sektor AI meskipun TikTok menghadapi berbagai tantangan regulasi dan geopolitik, khususnya di Amerika Serikat. Menurut Su, ByteDance memiliki keuntungan dari kumpulan data media sosial yang besar yang dapat digunakan untuk melatih model AI miliknya. Namun, pengembangan AI juga dihadapkan pada tantangan, termasuk persaingan yang semakin ketat di pasar AI di China.
Kenaikan Kekayaan yang Pesat
Kekayaan Yiming tidak hanya meningkat dalam jangka panjang, tetapi juga mengalami lonjakan dalam satu bulan terakhir, dengan tambahan lebih dari 12 miliar dollar AS atau sekitar Rp 212,26 triliun. Kenaikan ini terjadi setelah Bloomberg memperbarui valuasi ByteDance berdasarkan penilaian dari beberapa perusahaan investasi global, termasuk BlackRock, Fidelity Investments, dan T. Rowe Price. Mengingat ByteDance adalah perusahaan swasta, Bloomberg Billionaires Index menerapkan diskon risiko 10 persen terhadap valuasi perusahaan dalam menghitung kekayaan Yiming.
Pada saat yang sama, kekayaan Yiming dan Gautam Adani tercatat setara di kisaran 105 miliar dollar AS. Namun, Yiming berhasil menduduki posisi teratas karena pertumbuhan kekayaannya yang lebih tinggi, mencapai 40,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 712,8 triliun. Adani sebelumnya mencatatkan kekayaan sekitar 120 miliar dollar AS pada bulan Juni, tetapi mengalami penurunan seiring dengan perubahan bobot saham dalam indeks MSCI dan pelemahan pasar yang terkait dengan kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Sebelumnya, Adani menduduki posisi orang terkaya di Asia, namun kini berada di posisi ke-20 dalam daftar orang terkaya dunia versi Bloomberg.
Daftar Lima Orang Terkaya di Asia
Kenaikan Yiming ke posisi teratas menempatkannya dalam daftar lima orang terkaya di Asia. Berikut adalah daftar tersebut berdasarkan Bloomberg Billionaires Index:
- Zhang Yiming - Pendiri ByteDance, China: 105 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.857 triliun
- Gautam Adani - Adani Group, India: 105 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.857 triliun
- Mukesh Ambani - Reliance Group, India: 81,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.438 triliun
- Tadashi Yanai - Pendiri Uniqlo, Jepang: 63,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.127 triliun
- Masayoshi Son - Pendiri SoftBank, Jepang: 53,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 953 triliun
Daftar ini menunjukkan bahwa kekayaan para miliarder Asia berasal dari berbagai sektor. Namun, posisi Yiming menggambarkan bagaimana bisnis teknologi dan AI kini dapat bersaing dalam menciptakan kekayaan setara dengan sektor-sektor tradisional seperti energi, infrastruktur, dan ritel. Di China, perkembangan AI terus didorong oleh investasi sebagai bagian dari upaya Beijing untuk bersaing dengan Amerika Serikat dalam pengembangan teknologi maju.