KOMPAS.com - Seorang guru matematika yang dikenal di China, Tang Jiafeng, telah memicu perdebatan di tingkat nasional setelah mengusulkan agar bahasa Inggris tidak lagi menjadi mata pelajaran utama di sekolah-sekolah. Usulan tersebut disampaikan melalui media sosial pada awal September 2026. Tang berpendapat bahwa bahasa Inggris seharusnya menjadi pelajaran pilihan dan bukan lagi mata pelajaran wajib bagi semua siswa. Ia menilai bahwa anak-anak di China saat ini didorong untuk mempelajari bahasa asing sebelum benar-benar menguasai bahasa ibunya sendiri.
Lebih lanjut, Tang meminta masyarakat untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai "cinta buta terhadap segala sesuatu dari luar negeri". Sebagai seorang pengajar matematika yang mempersiapkan siswa untuk ujian masuk program pascasarjana, unggahan Tang segera viral dan menjadi topik hangat di media sosial, bahkan menduduki posisi teratas dalam daftar pencarian terpopuler di Weibo pada awal bulan tersebut. Bahasa Inggris telah menjadi salah satu dari tiga mata pelajaran inti di China sejak akhir 1970-an, bersama dengan Mandarin dan matematika, serta memiliki bobot yang signifikan dalam ujian gaokao, yang merupakan ujian masuk perguruan tinggi di negara tersebut.
Perdebatan yang Meluas
Perdebatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk orang tua, guru, pengamat pendidikan, dan tokoh media. Isu yang dibahas tidak hanya seputar beban belajar siswa, tetapi juga menyentuh identitas nasional serta peran teknologi penerjemah. Munculnya usulan Tang juga bertepatan dengan perkembangan pesat dalam teknologi penerjemahan berbasis kecerdasan buatan (AI), yang dianggap telah mengurangi kebutuhan untuk menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam mempelajari bahasa asing.
Kelompok pendukung usulan Tang berargumen bahwa kemampuan sistem penerjemah yang semakin canggih mengurangi urgensi untuk belajar bahasa asing secara mendalam. Pandangan ini mulai memengaruhi institusi pendidikan tinggi, seperti yang dilakukan oleh Shenzhen University of Advanced Technology (SUAT) yang pada Juli 2026 mengumumkan rencana untuk menghapus mata kuliah bahasa Inggris secara bertahap. Mereka menyatakan bahwa teknologi penerjemahan real-time berbasis AI menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusan tersebut.
Kritik Terhadap Pengajaran Bahasa Inggris
Beberapa orang tua dan guru juga mengungkapkan kritik terhadap metode pengajaran bahasa Inggris di sekolah, yang dinilai terlalu fokus pada tata bahasa dan nilai ujian, sehingga tidak mampu membuat siswa lancar berbicara. Kepala 21st Century Education Research Institute di Shenzhen, Xiong Bingqi, menyebut hasil dari sistem pendidikan tersebut sebagai "dumb English", yang berarti siswa dapat menyelesaikan soal tetapi kesulitan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Ia menambahkan bahwa hanya sebagian kecil dari populasi yang menggunakan bahasa Inggris dalam pekerjaan mereka, yang menjadi argumen bagi pendukung Tang untuk mempertanyakan alokasi waktu belajar yang diberikan untuk pelajaran tersebut.
Namun, ada pula kelompok yang menolak usulan Tang, khawatir bahwa penghapusan status bahasa Inggris sebagai pelajaran utama akan merugikan siswa dari keluarga berpenghasilan rendah. Mereka berpendapat bahwa sekolah negeri mungkin akan mengurangi jam belajar dan anggaran untuk pelajaran bahasa Inggris, sementara keluarga kaya masih dapat membayar guru privat atau menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah internasional. Bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, pelajaran di sekolah menjadi salah satu dari sedikit kesempatan untuk menguasai bahasa Inggris.
Seorang guru bahasa Inggris di Guangdong, Cinderella Huang, menekankan bahwa kemampuan berbahasa Inggris masih sangat diperlukan untuk mengakses universitas ternama, bepergian ke luar negeri, dan menggunakan berbagai model AI. Oleh karena itu, menyerahkan pembelajaran bahasa Inggris kepada keluarga dianggap berisiko memperlebar kesenjangan pendidikan.
Menurut indeks 2025, China berada di peringkat ke-86 dari 123 negara dan wilayah, dengan skor 464, turun dari posisi ke-38 pada tahun 2020. Beberapa daerah juga telah mengurangi bobot ujian bahasa Inggris, seperti Shanghai yang menghapus ujian akhir bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar pada tahun 2021. Hingga saat ini, Beijing belum memberikan tanggapan resmi terhadap usulan Tang, dan bahasa Inggris masih menjadi bagian dari mata pelajaran utama di sekolah-sekolah di China.