Kompanya yang mengembangkan chatbot berbasis kecerdasan buatan, Character.AI, telah mengajukan permohonan kebangkrutan di Amerika Serikat. Dalam proses ini, Character.AI berencana untuk menjual seluruh atau sebagian besar asetnya di bawah pengawasan Pengadilan Kepailitan. Disney muncul sebagai penawar awal dengan tawaran sebesar 20 juta dollar AS, yang setara dengan sekitar Rp 360 miliar.
Induk perusahaan Character.AI, Character Technologies, mencatatkan aset dan kewajiban yang berkisar antara 50 juta hingga 100 juta dollar AS, atau setara dengan Rp 900 miliar hingga Rp 1,8 triliun. Penyebab utama dari kebangkrutan ini diungkapkan oleh perusahaan, yang menyebutkan bahwa biaya hukum yang tinggi, pengeluaran untuk teknologi, serta gaji tenaga ahli di bidang AI menjadi faktor penyebabnya. Sebelum mengajukan kebangkrutan, Character.AI mengalami kerugian bulanan antara 8 juta hingga 9 juta dollar AS, yang setara dengan Rp 144 miliar hingga Rp 162 miliar.
Langkah-Langkah Perusahaan dan Proses Penjualan
CEO Character.AI, Colin Adams, menjelaskan bahwa selama setahun terakhir, perusahaan telah berusaha keras untuk mempertahankan dan memperbaiki bisnisnya meskipun menghadapi berbagai hambatan hukum dan operasional yang signifikan. Meskipun dalam proses penjualan, aplikasi dan situs Character.AI akan tetap beroperasi, dengan perkiraan proses penjualan akan selesai pada akhir November atau awal Desember 2026. Jika tidak ada pembeli yang tertarik, platform ini akan ditutup.
Character.AI didirikan pada tahun 2021 oleh dua mantan peneliti AI dari Google, Noam Shazeer dan Daniel de Freitas. Setahun setelah berdiri, perusahaan ini mengklaim valuasinya mencapai 1 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 18 triliun. Pengguna dapat berinteraksi dengan "karakter" berbasis AI yang bervariasi, mulai dari persona selebriti hingga karakter yang mengaku sebagai psikolog atau dokter. Di Indonesia, Character.AI sempat viral di platform TikTok karena banyak digunakan sebagai pacar virtual, dengan pengguna yang membagikan tangkapan layar percakapan mereka.
Penawaran Disney dan Kontroversi yang Mengikutinya
Tawaran Disney tidak mencakup pembelian keseluruhan Character.AI. Dengan nilai 20 juta dollar AS tersebut, Disney akan memperoleh hak untuk menggunakan teknologi dan kekayaan intelektual Character.AI secara permanen, meskipun bukan hak eksklusif, sehingga Character.AI masih dapat memberikan izin kepada pihak lain. Namun, tawaran ini belum final, dan pihak lain masih memiliki kesempatan untuk mengajukan penawaran yang lebih tinggi sebelum keputusan pengadilan dibuat.
Hubungan antara Disney dan Character.AI sebelumnya sempat tegang. Pada bulan September 2025, Disney mengeluarkan surat peringatan agar chatbot yang meniru karakter miliknya dihapus. Namun, setahun kemudian, Disney justru merekrut Karandeep Anand, CEO Character.AI, sebagai chief technology officer (CTO) mulai Oktober 2026. Anand sebelumnya diangkat sebagai CEO Character.AI pada tahun 2025 untuk memperbaiki reputasi keamanan platform tersebut. Dalam sidang perdana, pengacara Character.AI menyatakan bahwa Disney juga merekrut sebagian besar karyawan dari perusahaan tersebut, tetapi tidak menunjukkan minat pada data pengguna.
Character.AI kini sedang menghadapi gugatan dari beberapa keluarga yang menuduh chatbot-nya memberikan saran berbahaya kepada anak-anak. Salah satu penggugat, Megan Garcia, menggugat perusahaan ini pada tahun 2024 setelah kematian putranya, Sewell Setzer III, yang berusia 14 tahun. Gugatan tersebut termasuk dalam lima kasus yang mencapai penyelesaian awal pada Januari 2026, meskipun kesepakatan tersebut belum final. Setelah menghadapi gugatan, Character.AI menambahkan pop-up yang berisi rujukan layanan kesehatan mental, dan pengguna di bawah usia 18 tahun tidak lagi dapat berinteraksi tanpa batas dengan chatbot.
Character.AI saat ini sedang diselidiki oleh 46 negara bagian dan wilayah di AS, serta oleh otoritas di Inggris, Italia, Rusia, dan Australia.