Ning Boyu (30) mengambil langkah berani dengan meninggalkan pekerjaannya di Huawei, di mana ia mendapatkan gaji sekitar 140.000 dollar AS (sekitar Rp 2,5 miliar) per tahun. Ia memilih untuk kembali ke kampung halamannya dan membantu keluarganya bertani jagung. Ning mengundurkan diri dari perusahaannya pada 5 Agustus 2026 dan pulang ke Shaodong, Provinsi Hunan. Pada hari pertama ia membantu panen jagung, ia hanya menerima upah sebesar 10 yuan (sekitar Rp 26.480), namun ia merasa puas dengan hasil tersebut.
Keputusan Ning untuk kembali ke dunia pertanian memicu perbincangan di media sosial di China, di mana banyak warganet mempertanyakan apakah ia telah menyia-nyiakan keahlian teknisnya. Ning memiliki latar belakang pendidikan yang mengesankan, dengan gelar sarjana dan doktoral dari University of Electronic Science and Technology of China. Selama masa kuliahnya, ia telah menerbitkan 21 makalah ilmiah mengenai teknologi wireless, serta mencatatkan rekor lompat tinggi dan memenangkan kompetisi renang. Ia juga aktif sebagai kreator konten di platform Bilibili.
Pekerjaan di Huawei dan Tantangan yang Dihadapi
Pada tahun 2023, Ning direkrut oleh Huawei melalui program elit bernama "Top Minds", yang dikenal di China sebagai "Genius Youth". Dalam perannya sebagai principal research engineer, ia termasuk dalam kelompok penerima gaji tertinggi di program tersebut. Fokus pekerjaannya adalah pada riset teknologi wireless, yang sering kali memiliki siklus penelitian yang panjang sebelum menghasilkan hasil yang nyata.
Program "Genius Youth" adalah inisiatif Huawei untuk menarik talenta muda terbaik dari universitas, dengan menawarkan gaji yang jauh di atas standar industri. Namun, Ning bukanlah satu-satunya yang memilih untuk meninggalkan Huawei; Peng Zhihui, yang juga merupakan rekrutan dari program serupa pada tahun 2020, sebelumnya telah meninggalkan perusahaan untuk memulai usaha sendiri setelah meraih kesuksesan di media sosial dengan berbagai temuannya.
Alasan di Balik Keputusan untuk Bertani
Ning mengungkapkan bahwa ia merasa tertekan dengan sistem evaluasi kinerja di Huawei, yang menurutnya mirip dengan "sebuah video game" di mana hampir semua aktivitas diukur berdasarkan target kinerja. Ia merasa terisolasi karena sifat pekerjaannya yang berorientasi pada riset jangka panjang, yang tidak selalu menghasilkan hasil yang dapat ditunjukkan dalam periode evaluasi. Selain itu, ia juga khawatir tentang nilai komersial dari risetnya dan masa depan keahliannya di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI).
“Kalau suatu saat AI bisa melakukan hal-hal itu, lantas apa nilai dari kemampuan yang sedang saya kembangkan sekarang?” ungkap Ning. Ia merasakan adanya kesenjangan antara riset akademis dan kebutuhan praktis industri. Setelah berdiskusi dengan beberapa dosen dan mahasiswa di kampusnya, Ning menyadari bahwa ia lebih menikmati keterlibatan dalam komunitas akademik.
Ning menegaskan bahwa masa bertaninya ini bersifat sementara. Ia telah menerima beasiswa pascadoktoral Marie Curie dan sedang mempersiapkan diri untuk melakukan riset di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Meskipun demikian, ia berencana untuk kembali ke China setelah menyelesaikan program tersebut. “Saya suka menganggap diri saya sebagai aktor dalam hidup saya sendiri. Naskah bulan ini mungkin saya jadi petani, sementara bulan depan saya mungkin jadi sopir,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman bertani memberinya pemahaman baru tentang tantangan yang dihadapi oleh orang-orang di profesi yang berbeda dari dunia riset yang selama ini ia jalani. “Esensi hidup adalah pengalaman. Kamu tidak perlu membuktikan diri ke siapa pun,” tutupnya.