Badan investigasi Amerika Serikat, Federal Bureau of Investigation (FBI), baru-baru ini mengungkap jaringan pekerja teknologi informasi (TI) asal Korea Utara yang beroperasi di AS. Penemuan ini terjadi setelah FBI melaksanakan operasi bernama "Operation Lonestar", yang melibatkan penggeledahan lebih dari 40 rumah di Texas pada bulan September 2026.
Rumah-rumah yang digeledah diduga berperan dalam mendukung pekerja TI Korea Utara untuk mendapatkan pekerjaan jarak jauh di perusahaan-perusahaan yang berlokasi di AS. Skema ini dilaporkan telah berlangsung selama bertahun-tahun, di mana individu dari Korea Utara menggunakan identitas palsu untuk melamar pekerjaan, dengan bantuan beberapa warga negara AS.
Detail Penyelidikan dan Temuan
Menurut penyidik, skema ini berlangsung antara tahun 2019 hingga 2025 dan melibatkan sekitar 70 perusahaan di AS. Meskipun nama-nama perusahaan tersebut tidak diungkapkan, mereka diketahui bergerak di berbagai sektor seperti layanan kesehatan, komunikasi, ritel, dukungan keamanan siber, dan manufaktur.
"Korea Utara menggunakan skema pekerja TI mereka yang tersebar luas untuk mengumpulkan data bagi bermacam tujuan ilegal, termasuk pengembangan senjata yang pada akhirnya dapat menargetkan AS atau sekutunya," ungkap Asisten Jaksa Agung untuk Keamanan Nasional AS, John A. Eisenberg.
Dalam penyelidikan ini, Departemen Kehakiman (Department of Justice) yang mengawasi FBI, telah mengidentifikasi sejumlah warga AS yang didakwa sebagai rekan konspirator. Salah satu di antaranya adalah Juan Cecilio Pena Carrillo, seorang pria dari Texas bagian selatan. Mereka diduga menyediakan tempat untuk menyimpan laptop yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan AS kepada pekerjanya.
Operasi dan Dampak
Perangkat tersebut kemudian dikonfigurasi sedemikian rupa agar pekerja di luar negeri dapat mengakses jaringan dan data perusahaan dari jarak jauh, seolah-olah mereka bekerja dari wilayah AS. Lokasi-lokasi yang menampung laptop ini dikenal sebagai "laptop farms" atau ladang laptop. Jaksa AS untuk Distrik Utara Texas, Ryan Raybould, menyatakan bahwa keberadaan puluhan laptop di satu rumah merupakan tanda bahaya, dan dia mempertanyakan klaim beberapa orang yang mengaku tidak menyadari bahwa tindakan mereka melanggar hukum.
Selain menyediakan tempat, rekan konspirator juga diduga membuat rekening bank di AS dan menggunakan layanan transfer uang online untuk mengalirkan upah para pekerja ke Korea Utara. Dalam operasi ini, FBI berhasil menyita sekitar 187 laptop beserta perangkat KVM (keyboard-video-mouse) yang memungkinkan pekerja di luar negeri mengoperasikan komputer dari jarak jauh. Sekitar 100 laptop di antaranya disita hanya di wilayah Texas Utara.
Ryan Raybould menegaskan bahwa pembongkaran setiap laptop farm akan memutus salah satu sumber pendapatan yang diduga diandalkan oleh pemerintah Korea Utara untuk membiayai program persenjataannya. Pemerintah AS juga menyampaikan bahwa pengumuman ini merupakan peringatan bagi perusahaan untuk melakukan pemeriksaan latar belakang dan uji tuntas yang lebih ketat saat merekrut pekerja jarak jauh, terutama bagi kandidat yang belum pernah ditemui secara langsung.
Skema ini diduga telah menghasilkan hampir 3 juta dollar AS (sekitar Rp 53,8 miliar) yang dialirkan ke Korea Utara untuk mendukung program persenjataan negara. Meski demikian, pemerintah AS memperkirakan bahwa praktik serupa terjadi dalam skala yang lebih luas. Departemen Keuangan AS memperkirakan bahwa skema pekerja TI Korea Utara telah menghasilkan hampir 800 juta dollar AS (sekitar Rp 14,3 triliun) di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini, Departemen Luar Negeri AS menawarkan hadiah hingga 5 juta dollar AS (sekitar Rp 89,7 miliar) bagi siapa pun yang memberikan informasi yang dapat membantu mengganggu skema keuangan Korea Utara dan aktivitas ilegal lainnya. Penyelidikan terkait Operation Lonestar masih akan terus berlangsung.