Garuda Indonesia, di bawah kepemimpinan Direktur Utama Glenny Kairupan, berkomitmen untuk melakukan transformasi perbaikan layanan secara menyeluruh. Maskapai ini baru-baru ini masuk dalam daftar World’s Best Airlines 2026 versi AirlineRatings.com, menduduki peringkat ke-24 dalam kategori The World’s Best Full-Service Airlines for 2026.
Glenny Kairupan menyatakan bahwa pencapaian ini menjadi sinyal positif bagi proses transformasi yang sedang dilakukan oleh perusahaan. Garuda Indonesia menjadi satu-satunya maskapai asal Indonesia yang berhasil masuk dalam 25 besar maskapai layanan penuh terbaik di dunia. "Di tengah dinamika industri penerbangan global yang penuh tantangan, pencapaian ini tentunya menjadi sinyal positif yang mencerminkan progres dari program transformasi perusahaan," ujarnya.
Perusahaan berencana untuk mempercepat perbaikan layanan yang tidak hanya terbatas pada kabin, tetapi juga mencakup operasional dan layanan digital. "Garuda Indonesia berkomitmen mengakselerasi berbagai transformasi kinerja yang tidak hanya berfokus pada perbaikan layanan secara menyeluruh, tetapi juga optimalisasi operasional dan pengembangan digitalisasi layanan secara berkelanjutan," tambahnya.
Glenny juga mengapresiasi penilaian yang diberikan oleh AirlineRatings.com, yang mencakup peningkatan produk di kabin, makanan selama penerbangan, serta pelayanan awak pesawat. Garuda Indonesia kini mempersiapkan pembenahan yang lebih luas, termasuk standar layanan kabin, layanan darat, fasilitas lounge, layanan digital, dan hiburan selama penerbangan.
Di sisi lain, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat kinerja keuangan yang bervariasi pada kuartal I 2026. Meskipun pendapatan mengalami kenaikan, perusahaan masih mencatat kerugian meski jumlahnya menyusut dibandingkan periode sebelumnya. Pendapatan yang diraih mencapai USD 762,35 juta, meningkat 5,39% dibandingkan tahun lalu.
Namun, penerbangan tidak berjadwal mengalami penurunan sebesar 34,19%. Beban usaha juga mengalami penurunan tipis, sementara beban operasional penerbangan mengalami penurunan menjadi USD 350,24 juta. Di sisi lain, perusahaan mencatat rugi selisih kurs dan penurunan laba entitas asosiasi.
Dengan ekuitas yang menurun dan liabilitas yang meningkat, Garuda Indonesia terus berupaya memperbaiki kinerjanya. Perusahaan mencatat aset naik menjadi USD 7,50 miliar dan memiliki kas serta setara kas sebesar USD 857,50 juta pada akhir Maret 2026. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau seiring dengan upaya transformasi yang dilakukan.