GoPro telah resmi mengumumkan bahwa mereka akan melakukan merger dengan Starman Optical, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi optik dan fotonik. Kesepakatan ini melibatkan pembayaran tunai sebesar 285 juta dolar AS, setara dengan sekitar Rp 5,13 triliun, yang akan diberikan kepada pemegang saham GoPro. Pengumuman mengenai kesepakatan ini dilakukan pada hari Selasa, 1 September 2026, waktu setempat.
Dalam perjanjian merger tersebut, pemegang saham GoPro akan menerima pembayaran tunai sebesar 1,14 dolar AS per lembar saham, yang dapat disesuaikan berdasarkan modal kerja bersih GoPro saat transaksi selesai. Setelah proses merger rampung, Starman Optical akan menguasai sekitar 90 persen saham dari perusahaan hasil gabungan, sementara pemegang saham lama GoPro akan tetap memiliki sekitar 10 persen.
Utang dan Status Perusahaan Setelah Merger
Selain itu, utang GoPro yang mencapai sekitar 92 juta dolar AS juga akan dilunasi setelah transaksi selesai. Meskipun melakukan merger, GoPro akan tetap berstatus sebagai perusahaan terbuka dan sahamnya akan terus diperdagangkan di Nasdaq. Perusahaan ini juga akan melanjutkan bisnis produk konsumen, layanan berlangganan, dan platform penyimpanan cloud yang telah ada.
Masuk ke Pasar Data Center AI
Dengan adanya merger ini, produk transceiver optik dari Starman akan menjadi bagian dari portofolio GoPro. Kedua perusahaan menyatakan bahwa langkah ini akan membuka peluang bagi GoPro untuk memasuki pasar infrastruktur pusat data kecerdasan buatan, serta sektor pertahanan, pemerintahan, robotik, dan kedirgantaraan. Charles Tebele, CEO Starman Holding, mengungkapkan bahwa "Optik dan pencitraan canggih adalah komponen penting bagi AI, keamanan nasional, dan perekonomian secara luas, tapi sebagian besar perangkat keras krusial di baliknya masih diproduksi di luar negeri."
Pendirinya, Nicholas Woodman, juga menyatakan bahwa merger ini akan memposisikan GoPro sebagai pemain dalam solusi pencitraan dan optik yang berasal dari Amerika. Ia menambahkan bahwa langkah ini akan memungkinkan GoPro untuk tumbuh di pasar konsumen, komersial, dan pertahanan.
Profil Starman Optical
Starman Optical baru didirikan di Delaware pada 31 Agustus 2026, sehari sebelum pengumuman merger. Meskipun baru, perusahaan ini akan menguasai 90 persen GoPro. Bisnis inti Starman sebenarnya berjalan di anak usahanya, Starman New Photonics, yang didirikan melalui usaha patungan pada tahun 2024 dengan perusahaan desain fotonik bernama New Photonics. Tujuan dari usaha ini adalah untuk membangun pabrik fotonik di Amerika Serikat.
Starman New Photonics memproduksi transceiver optik, yang berfungsi untuk mengubah sinyal listrik menjadi cahaya untuk mengirim data dengan kecepatan tinggi melalui kabel serat optik. Komponen ini menjadi penghubung penting antara GPU, switch, dan server di pusat data, yang sangat diperlukan dalam pembangunan klaster GPU untuk kebutuhan AI. Perusahaan ini juga meluncurkan produk baru bernama Liberty Series pada konferensi industri OFC di Los Angeles pada Maret 2026.
Untuk mendukung produksi dalam negeri, Badan Pembangunan Ekonomi New Jersey telah menyetujui investasi sebesar 150 juta dolar AS untuk merenovasi fasilitas di Warren, New Jersey, yang diperkirakan akan membuka 250 lapangan kerja baru. Starman Optical beroperasi di bawah Starman Holding, yang memiliki portofolio di bidang teknologi dan merek konsumen.
Kesepakatan ini merupakan langkah baru bagi GoPro setelah mengalami kesulitan finansial dalam beberapa tahun terakhir. GoPro pertama kali melantai di bursa pada tahun 2014 dengan harga penawaran awal 24 dolar AS per saham dan sempat mencapai valuasi hampir 4 miliar dolar AS pada hari pertama perdagangan. Namun, sejak saat itu, harga sahamnya anjlok hingga 96 persen.
Pada kuartal yang berakhir Juni 2026, pendapatan GoPro mengalami penurunan lebih dari 80 persen dibandingkan dengan puncaknya pada kuartal keempat 2014. Persaingan dari perusahaan-perusahaan seperti DJI dan Insta360 juga memberikan tekanan pada bisnis kamera aksi GoPro. Di tengah kesulitan ini, CEO Woodman menyuntikkan dana pribadi sebesar 20 juta dolar AS untuk menjaga operasional perusahaan.
Mark Fischbach, seorang kreator YouTube yang dikenal sebagai Markiplier, juga menjadi pemegang saham terbesar GoPro dengan kepemilikan 8,5 persen, setelah sebelumnya menilai saham GoPro undervalued. Transaksi merger ini telah disetujui oleh dewan direksi kedua perusahaan, dan diharapkan dapat ditutup pada akhir tahun 2026, dengan syarat persetujuan dari regulator dan pemegang saham GoPro.