🔴 Breaking
Bill Gates Prediksi AI dan Robot Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia Krisis Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, Kasus Melampaui 10 Ribu dan Hampir 5 Ribu Korban Jiwa --- Kehidupan Pedagang di Tengah Aksi Demonstrasi di Monas --- Mengenal Heatstroke: Bahaya yang Mengintai Pelari di Cuaca Panas Rektor UIN Saizu Lantik Lima Pejabat Baru, Soroti Pentingnya Kolaborasi dan Penguatan Usulan Koperasi Desa untuk Penyaluran Gaji Pensiunan ASN, Taspen Menyatakan Sikap Dua Studio Game Besar Umumkan PHK Massal di Akhir Oktober 2026 Peringatan Direktur Utama BPJS Kesehatan Terkait Penipuan di Rumah Sakit, Fokus pada Kasus Diare di Gresik Rektor UIN Saizu Ajak Generasi Muda untuk Berinovasi dan Berkarya dalam Memperingati Sumpah Pemuda Penyesuaian Harga BBM di Pakistan: Bensin Turun, Solar Naik per 28 Oktober Bill Gates Prediksi AI dan Robot Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia Krisis Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, Kasus Melampaui 10 Ribu dan Hampir 5 Ribu Korban Jiwa --- Kehidupan Pedagang di Tengah Aksi Demonstrasi di Monas --- Mengenal Heatstroke: Bahaya yang Mengintai Pelari di Cuaca Panas Rektor UIN Saizu Lantik Lima Pejabat Baru, Soroti Pentingnya Kolaborasi dan Penguatan Usulan Koperasi Desa untuk Penyaluran Gaji Pensiunan ASN, Taspen Menyatakan Sikap Dua Studio Game Besar Umumkan PHK Massal di Akhir Oktober 2026 Peringatan Direktur Utama BPJS Kesehatan Terkait Penipuan di Rumah Sakit, Fokus pada Kasus Diare di Gresik Rektor UIN Saizu Ajak Generasi Muda untuk Berinovasi dan Berkarya dalam Memperingati Sumpah Pemuda Penyesuaian Harga BBM di Pakistan: Bensin Turun, Solar Naik per 28 Oktober
Ekonomi

--- Kehidupan Pedagang di Tengah Aksi Demonstrasi di Monas ---

--- Di tengah keramaian aksi demonstrasi di Monumen Nasional, beberapa pedagang kecil memanfaatkan kesempatan untuk mencari nafkah, sementara petugas kebersihan bersiap membersihkan lokasi setelah mas...

Fayra Nugroho

Penulis

28 October 2026
5 kali dibaca
Ahmad (43), penjual tahu bulat yang berjualan di sekitar Monas saat aksi demonstrasi 28 Oktober 2026. (Liputan6.com/Drey)
Ahmad (43), penjual tahu bulat yang berjualan di sekitar Monas saat aksi demonstrasi 28 Oktober 2026. (Liputan6.com/Drey)
---TITLEEXCERPT--- Di tengah keramaian aksi demonstrasi di Monumen Nasional, beberapa pedagang kecil memanfaatkan kesempatan untuk mencari nafkah, sementara petugas kebersihan bersiap membersihkan lokasi setelah massa membubarkan diri. ---CONTENT---

Rabu sore (28/10/2026), suasana di sekitar Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dipenuhi dengan orasi mahasiswa yang menggema melalui pengeras suara. Namun, di balik kerumunan tersebut, terdapat aktivitas lain yang tak kalah sibuk: gerobak tahu bulat, penjual kopi keliling, dan petugas kebersihan yang menunggu untuk membersihkan area setelah demonstrasi.

Bagi sebagian individu, aksi massa adalah ajang untuk menyampaikan aspirasi. Namun, bagi yang lain, ini merupakan peluang untuk meraih pendapatan tambahan di tengah keramaian. Ahmad (43), seorang penjual tahu bulat, terlihat sibuk menggoreng tahu di atas kompor. Ia mengungkapkan bahwa keramaian seperti demonstrasi selalu memberikan keuntungan bagi usahanya. "Kalau ada demo, bagus," katanya saat ditemui di lokasi.

Setiap pagi, Ahmad berjualan di kawasan perkantoran sebelum beralih ke Monas saat karyawan mulai bekerja. Ia sering mendapatkan informasi tentang demonstrasi melalui media sosial. Menariknya, pembeli terbanyak saat aksi berlangsung biasanya berasal dari petugas yang bertugas menjaga keamanan.

Meski demikian, Ahmad mengakui bahwa mencari nafkah tidaklah mudah. "Pokoknya nyari duit susah. Saya dapat duitnya kalau ada begini-begini doang nih, sama acara konser di Monas. Kalau hari-harian mah, bertahan hidup doang," ungkapnya. Ia berharap kondisi ekonominya dapat membaik tanpa harus mengharapkan hal yang berlebihan.

Peluang di Tengah Keramaian

Ijal (28), seorang penjual kopi, juga memanfaatkan momen demonstrasi untuk berjualan. Ia biasanya beroperasi di depan PT Gas Telekomunikasi Nusantara, namun memutuskan untuk datang ke Monas setelah mengetahui adanya aksi melalui Instagram. Ini adalah pertama kalinya ia berjualan di lokasi tersebut dan ia masih belum dapat memastikan apakah keramaian akan meningkatkan penjualannya. "Mau ngejar target aja," ujarnya singkat.

Ijal menyadari bahwa pekerjaan harus tetap berjalan meskipun ada demonstrasi. Ia merasa perlu mengejar target pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun penutupan jalan menjadi tantangan tersendiri. "Kalau untuk jalan, dari yang jalan ditutup sih," tambahnya.

Pengalaman Panjang Seorang Pedagang

Daang (62), seorang pedagang keliling yang menjajakan makanan ringan dan buah potong, memiliki pengalaman lebih dari puluhan tahun mencari nafkah di Jakarta. Ia menilai bahwa penjualannya kadang lebih baik saat ada demonstrasi dibandingkan hari biasa. "Ya, agak mendingan demo," kata Daang. Pembelinya bisa berasal dari kalangan demonstran maupun aparat yang berjaga, meskipun keramaian tidak selalu menjamin semua dagangannya terjual.

Daang memulai usaha dagangnya pada tahun 1982, awalnya berjualan minyak tanah sebelum beralih ke makanan ringan. Setiap hari, ia berangkat sekitar pukul 05.00 untuk mengambil dagangannya di Pasar Rebo dan berkeliling ke berbagai lokasi di Jakarta, termasuk Monas dan Bundaran HI. Ia biasanya tiba di tempat berjualan sekitar pukul 10.00 atau 11.00 dan pulang pada malam hari. Rutinitas ini sangat menguras tenaga, terutama ketika dagangannya tidak laku. "Kalau enggak laku-laku ya berat, capek," tuturnya.

Dengan penghasilan yang bergantung pada penjualan, Daang tidak ingin melewatkan kesempatan saat demonstrasi berlangsung. Namun, ia juga memperhatikan keselamatan dirinya. "Kita sebelum mau ada kerusuhan kan kita minggir dulu," katanya.

Di sisi lain, Ajad (35), seorang petugas kebersihan, menunggu kesempatan untuk membersihkan area setelah demonstrasi. Ia menjelaskan bahwa sampah yang ditinggalkan setelah aksi biasanya lebih banyak dibandingkan hari biasa, seperti gelas dan botol bekas minuman. "Ya biasanya itu, apa, gelas botol Aqua. Bekas minuman," ujarnya.

Namun, petugas kebersihan tidak dapat langsung membersihkan lokasi saat demonstrasi masih berlangsung. Mereka harus menunggu hingga situasi memungkinkan untuk bekerja dengan aman. "Ya biasa sih kita kalau acara seperti ini nunggu bubar dulu," tambahnya.

Dengan demikian, meskipun demonstrasi berakhir, aktivitas di sekitar Monas tidak langsung selesai. Ketika massa mulai meninggalkan lokasi, petugas kebersihan bersiap untuk melaksanakan tugas mereka, yang merupakan bagian penting dari pemulihan ruang publik. Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi, kehidupan sehari-hari tetap berjalan, dengan pedagang yang berharap mendapatkan penghasilan dan petugas kebersihan yang memastikan area tetap bersih setelah keramaian.

Bagi Ahmad, Ijal, Daang, dan Ajad, hari itu bukan hanya tentang demonstrasi, melainkan juga tentang memenuhi kebutuhan hidup dan menyelesaikan pekerjaan sebelum hari berakhir.

Artikel Terkait