Jakarta - Pada acara Jakarta Running Festival yang diadakan pada Sabtu (24/10) dan Minggu (25/10) di Gelora Bung Karno, sejumlah pelari dilaporkan mengalami heatstroke. Kondisi ini dapat menimpa siapa saja, termasuk atlet yang berpengalaman.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dan juga medical director Jakarta Running Festival, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, menjelaskan bahwa heatstroke atau sengatan panas adalah suatu keadaan di mana suhu tubuh meningkat secara signifikan disertai dengan gangguan pada sistem saraf pusat. Gejala yang muncul dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, kebingungan, disorientasi, hingga hilangnya kesadaran.
Risiko Heatstroke di Negara Tropis
Menurut dr. Andi, risiko terjadinya heatstroke sangat tinggi di negara tropis seperti Indonesia, terutama saat cuaca panas. Saat berlari dalam kondisi tersebut, suhu tubuh pelari dapat meningkat. "Ketika seseorang itu berlari tanpa mendengarkan tubuhnya, suhu tubuhnya meningkat, dan lama-kelamaan di suatu titik dia akan kehilangan fokus," ujarnya.
Dia memberikan contoh pelari elite, Odekta, yang merupakan pelari tercepat wanita Indonesia, pernah mengalami heatstroke beberapa ratus meter menjelang finis saat memimpin di SEA Games.
Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Cepat
dr. Andi menekankan bahwa saat pelari masih mampu berpikir jernih, mereka seharusnya dapat mengambil keputusan untuk mengurangi kecepatan, berhenti sejenak, berjalan, atau mencari bantuan medis. "Sebenarnya, ketika dia masih bisa berpikir, di situlah dia memutuskan untuk, 'Oke, saya kurangi kecepatannya. Oke, saya berhenti, saya jalan, atau sekarang saya cari petugas medis untuk minum dulu atau duduk sebentar, baru saya lari lagi,'" jelasnya.
Namun, jika tanda-tanda awal tersebut diabaikan dan aktivitas tetap dilanjutkan, kondisi tubuh bisa memburuk. Suplai oksigen dan darah yang mengalir ke otak akan berkurang. "Semuanya berfokus ke kulit untuk proses penguapan atau proses pendinginan," tambahnya.
Dalam situasi ini, gangguan pada pola pikir atau sistem otak dapat terjadi, yang membuat seseorang tidak mampu mengambil keputusan. "Sehingga yang terjadi banyak yang tiba-tiba kolaps, dia nggak sadar," tutup dr. Andi.