🔴 Breaking
Ekonomi

Usulan Insentif untuk Kendaraan Hybrid Sedang Dalam Pembahasan

Pemerintah Indonesia tengah mengkaji pemberian insentif untuk kendaraan hybrid, dengan harapan dapat diajukan pada tahun ini. Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, menekankan pentingnya dukungan ba...

Fehardian Rahaja

Penulis

28 October 2026
5 kali dibaca
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji. [Suara.com/Bagaskara]
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji. [Suara.com/Bagaskara]

Pemerintah Indonesia saat ini sedang membahas rencana untuk memberikan insentif bagi kendaraan hybrid, dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan sektor otomotif di dalam negeri. Usulan kebijakan ini ditargetkan dapat diajukan pada tahun ini. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan bahwa pembahasan teknis mengenai insentif tersebut telah dilakukan bersama kementerian terkait.

Pertemuan dengan Pihak Toyota

Pemerintah masih melakukan kajian mengenai bentuk dukungan yang tepat untuk kendaraan hybrid, mengingat karakteristiknya yang berbeda dengan kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). "Kami sudah mulai melakukan pembahasan teknis dengan kementerian terkait. Besaran insentif yang akan diusulkan masih dalam proses kajian. Industri juga tidak meminta insentif yang sama dengan kendaraan listrik berbasis baterai, tetapi berharap tetap ada dukungan insentif," ungkap Sarmuji setelah pertemuan dengan jajaran direksi Toyota Astra Motor (TAM) dan Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Sarmuji menambahkan bahwa insentif ini diharapkan dapat menjadi stimulus untuk memperkuat pasar otomotif nasional, mengingat industri kendaraan masih memerlukan dukungan kebijakan guna mendorong pembelian mobil baru di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Selain membahas insentif untuk kendaraan hybrid, ia juga meminta Toyota untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia.

Pengembangan Kendaraan Listrik

Pemerintah ingin agar pengembangan industri otomotif nasional tidak hanya terfokus pada kendaraan hybrid, tetapi juga mencakup teknologi kendaraan listrik sepenuhnya. "Kami mendorong Toyota Indonesia untuk lebih fokus mengembangkan kendaraan listrik. Saat ini kendaraan hybrid sudah berjalan, bahkan Toyota telah memiliki fasilitas produksi baterai hybrid yang produknya diekspor. Namun, kami meminta agar pengembangannya tidak berhenti pada hybrid, melainkan terus melangkah ke kendaraan listrik berbasis baterai," tegas Sarmuji.

Nandi, salah satu perwakilan Toyota, menyatakan bahwa perusahaan telah memproduksi model BEV bZ4X di Indonesia dan sedang menyiapkan model kendaraan listrik lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik. Di sisi lain, pemerintah juga mendorong peningkatan ekspor kendaraan produksi Indonesia, baik dari segi volume, variasi model, maupun negara tujuan. Australia dianggap sebagai salah satu pasar yang memiliki potensi untuk memperluas penjualan kendaraan buatan dalam negeri.

Sarmuji menilai bahwa kedekatan geografis Indonesia dengan Australia serta adanya perjanjian kerja sama ekonomi antara kedua negara dapat menjadi modal untuk meningkatkan daya saing produk otomotif nasional. "Australia masih banyak mendapatkan pasokan kendaraan dari negara tetangga, padahal secara geografis Indonesia lebih dekat. Kita juga sudah memiliki perjanjian kerja sama ekonomi dengan Australia yang seharusnya dapat meningkatkan daya saing produk otomotif Indonesia," jelasnya.

Ia juga mendorong Toyota untuk mempertimbangkan produksi kendaraan double cabin di Indonesia guna memenuhi kebutuhan pasar Australia. Pemerintah siap mendukung perbaikan ekosistem industri jika diperlukan untuk merealisasikan peluang ekspor tersebut. Sarmuji menambahkan bahwa pasar otomotif Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar, dengan rasio kepemilikan mobil di Indonesia yang baru sekitar 99 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah Malaysia yang mencapai sekitar 490 unit dan Thailand sekitar 275 unit per 1.000 penduduk.

Artikel Terkait