🔴 Breaking
Teknologi

BlackBerry Siap Memasuki Era Baru dengan Dua Bisnis Inovatif

BlackBerry akan kembali ke industri teknologi dengan fokus pada sistem operasi QNX untuk kendaraan dan robot, meninggalkan bisnis ponsel yang pernah mengangkat namanya. CEO BlackBerry, John Giamatteo,...

Bima Sakti

Penulis

28 October 2026
6 kali dibaca
Papan ketik QWERTY dengan fitur capacitive touch input merupakan salah satu fitur andalan BlackBerry KeyOne Black Limited Edition. Tombol-tombol navigasi Android (home, back, recent apps) ditempatkan di antara keyboard dan layar. (Oik Yusuf/ KOMPAS.com)
Papan ketik QWERTY dengan fitur capacitive touch input merupakan salah satu fitur andalan BlackBerry KeyOne Black Limited Edition. Tombol-tombol navigasi Android (home, back, recent apps) ditempatkan di antara keyboard dan layar. (Oik Yusuf/ KOMPAS.com)

BlackBerry bersiap untuk kembali ke dunia teknologi dengan menawarkan sistem operasi QNX yang ditujukan untuk kendaraan dan robot, alih-alih melanjutkan produksi ponsel yang pernah membuatnya terkenal. John Giamatteo, CEO BlackBerry, menyatakan bahwa saat ini QNX telah diimplementasikan dalam lebih dari 275 juta kendaraan. Selain itu, produk BlackBerry juga digunakan dalam berbagai aplikasi seperti robotika, lembaga pemerintah, alat medis, dan rantai pasokan.

“Produk yang kami tawarkan saat ini tidak dapat dipegang di tangan, tetapi produk tersebut ada di sekitar kita,” ungkap Giamatteo dalam sebuah wawancara di program televisi Mad Money pada Senin (26/10/2026). BlackBerry pernah mendominasi pasar ponsel di Indonesia, dengan data dari GfK menunjukkan bahwa pangsa pasar ponsel BlackBerry di Indonesia masih mencapai 51 persen hingga Desember 2011. Pada September 2016, perusahaan asal Kanada ini mengumumkan keputusan untuk menghentikan pengembangan perangkat keras dan berfokus pada perangkat lunak.

Nilai Pasar dan Royalti QNX yang Meningkat

Saat ini, nilai pasar saham BlackBerry diperkirakan mencapai 5,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 97,2 triliun), jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya pada tahun 2008 yang hampir mencapai 85 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.530 triliun). Meskipun demikian, harga saham BlackBerry telah meningkat sebesar 142 persen dibandingkan awal tahun 2026. Giamatteo juga mengungkapkan bahwa royalti dari QNX kini telah melampaui 1,2 miliar dollar AS (sekitar Rp 21,6 triliun), yang merupakan nilai kontrak royalti yang belum diterima oleh perusahaan. Pada akhir tahun fiskal 2026, nilai tersebut diperkirakan sekitar 950 juta dollar AS (sekitar Rp 17,1 triliun).

Menurut Giamatteo, terdapat “tiga pendorong” utama yang mendorong pertumbuhan bisnis QNX. Pertama, produsen mobil yang beralih ke sistem komputasi yang lebih maju. Kedua, BlackBerry yang terus memperluas produk perangkat lunak QNX. Ketiga, meningkatnya permintaan untuk kecerdasan buatan fisik, yang merujuk pada aplikasi kecerdasan buatan dalam dunia nyata, seperti robot dan mobil swakemudi. Salah satu produk baru QNX adalah Alloy Kore, yang mengintegrasikan sistem operasi dengan perangkat lunak perantara. Kontrak pertama Alloy Kore diperoleh dari Coretura, sebuah perusahaan patungan antara Volvo Group dan Daimler Truck, yang menambah nilai backlog QNX lebih dari 100 juta dollar AS (sekitar Rp 1,8 triliun).

Peran BlackBerry dalam Keamanan Robot

Walaupun BlackBerry tidak memproduksi robot, perusahaan ini menyediakan perangkat lunak untuk memastikan keamanan robot yang beroperasi di gudang, forklift tanpa pengemudi, dan mesin pemindah palet. Giamatteo menyebutkan bahwa Nvidia telah menjadikan QNX sebagai standar untuk Halos Safety Stack, yang merupakan rangkaian sistem keselamatan untuk robot yang diproduksi oleh Nvidia. “Nvidia adalah mitra yang luar biasa,” kata Giamatteo, menambahkan bahwa kolaborasi ini membuka banyak peluang baru.

Pada kuartal yang berakhir pada 31 Agustus 2026, BlackBerry melaporkan pendapatan sebesar 163,3 juta dollar AS (sekitar Rp 2,94 triliun), meningkat 26 persen dibandingkan tahun lalu. Pendapatan dari QNX juga mengalami kenaikan sebesar 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai 80,3 juta dollar AS (sekitar Rp 1,45 triliun). Margin kotor perusahaan, yaitu persentase pendapatan setelah dikurangi biaya langsung, mencapai 87 persen. “QNX mencatatkan kinerja rekor pada kuartal ini, didorong oleh kekuatan bisnis otomotif inti kami,” jelas Giamatteo dalam laporan kinerja perusahaan. Sementara itu, pasar di luar otomotif, termasuk sektor robotik, baru menyumbang sekitar 20 persen dari total pendapatan QNX.

Artikel Terkait