Pemerintah Pakistan telah melakukan penyesuaian harga bahan bakar yang berlaku mulai 28 Oktober 2026. Harga bensin diturunkan menjadi 376,06 rupee per liter, sedangkan harga solar mengalami kenaikan menjadi 398,07 rupee per liter.
Dalam laporan terbaru, harga bensin mengalami penurunan sebesar 3,19 rupee atau sekitar Rp 209 per liter, sementara harga high-speed diesel (HSD) naik sebesar 2,25 rupee per liter. Kebijakan ini mulai berlaku efektif pada hari Rabu, 28 Oktober 2026.
Revisi Harga oleh OGRA
Menurut informasi dari Business Recorder, Divisi Perminyakan menyatakan bahwa Otoritas Regulator Minyak dan Gas Bumi (OGRA) telah melakukan revisi harga ex-depot berdasarkan mekanisme penetapan harga bahan bakar yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Dengan penyesuaian ini, harga bensin turun dari sebelumnya 379,25 rupee menjadi 376,06 rupee atau setara dengan Rp 24.667 per liter. Sementara itu, harga high-speed diesel meningkat dari 395,82 rupee menjadi 398,07 rupee, yang setara dengan Rp 26.111 per liter.
Penyebab Perubahan Harga
OGRA menjelaskan bahwa perubahan harga ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global, termasuk fluktuasi tarif Platts, biaya premi, serta komponen biaya tambahan lainnya. Sebelumnya, pada hari Senin, pemerintah juga telah menaikkan harga high-speed diesel sebesar 2,16 rupee per liter dan bensin sebesar 1,54 rupee per liter.
Harga minyak mentah mengalami penurunan untuk sesi kedua berturut-turut pada 27 Oktober 2026, yang dipicu oleh upaya diplomatik baru untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Mengacu pada CNBC, harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, turun sebesar 1,7% dan ditutup pada US$ 113,88 per barel, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di Amerika Serikat turun 1,8% menjadi US$ 99,90 per barel.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bertemu dengan pejabat tinggi keamanan nasionalnya, Mohsen Rezaei, untuk membahas syarat-syarat Iran dalam mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat. Khamenei menyatakan bahwa situasi saat ini, yang tidak sepenuhnya perang maupun perdamaian, harus segera diakhiri dan membahas upaya untuk menjaga keamanan nasional serta regional dengan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Arab Saudi dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melakukan pembicaraan langsung di Teheran pada hari Senin untuk meredakan ketegangan. Pertemuan ini juga dihadiri oleh pejabat tinggi militer dan intelijen dari Pakistan serta Turki, yang merupakan sekutu Arab Saudi.
Dalam beberapa pekan terakhir, Arab Saudi mengalami serangan berulang oleh kelompok militan Houthi yang memiliki afiliasi dengan Iran. Serangan tersebut menargetkan infrastruktur energi dan sasaran sipil, termasuk bandara, yang berpotensi mengganggu kelancaran ekspor minyak Arab Saudi yang selama delapan bulan konflik tetap stabil.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa pembicaraan di Teheran merupakan langkah menuju kerja sama keamanan regional, dan ada kemungkinan untuk melakukan konsultasi lebih lanjut.