🔴 Breaking
YouTube Perketat Aturan Monetisasi untuk Kreator Baru Minuman yang Perlu Dibatasi untuk Menjaga Kesehatan Tubuh Pemulihan Layanan Vital Pasca Gempa NTT oleh Pemerintah dan BUMN Jaringan Internasional Olah Emas Ilegal, Potensi Kerugian Hampir Rp 3 Triliun Per Bulan Mahasiswa KKN UNNES Giat Memperkuat DESTANA di Desa Kutosari Melalui Pemasangan Biopori Diskon Spesial Pertamina untuk HUT RI ke-81: Pertamax dan Lainnya Rp 450 per Liter Pria Ini Tinggalkan Pekerjaan untuk Jadi Kreator Video AI, Pendapatannya Justru Meningkat Bencana Gempa NTT: Kemenkes Mengonfirmasi 46 Korban Jiwa dan 36 Luka Berat Kegiatan Family Gathering SDTQ Al Abidin Solo 2026: Memperkuat Persaudaraan dalam Kebersamaan BRI Peduli Segera Salurkan Bantuan Pasca Gempa Flores Magnitudo 7,7 YouTube Perketat Aturan Monetisasi untuk Kreator Baru Minuman yang Perlu Dibatasi untuk Menjaga Kesehatan Tubuh Pemulihan Layanan Vital Pasca Gempa NTT oleh Pemerintah dan BUMN Jaringan Internasional Olah Emas Ilegal, Potensi Kerugian Hampir Rp 3 Triliun Per Bulan Mahasiswa KKN UNNES Giat Memperkuat DESTANA di Desa Kutosari Melalui Pemasangan Biopori Diskon Spesial Pertamina untuk HUT RI ke-81: Pertamax dan Lainnya Rp 450 per Liter Pria Ini Tinggalkan Pekerjaan untuk Jadi Kreator Video AI, Pendapatannya Justru Meningkat Bencana Gempa NTT: Kemenkes Mengonfirmasi 46 Korban Jiwa dan 36 Luka Berat Kegiatan Family Gathering SDTQ Al Abidin Solo 2026: Memperkuat Persaudaraan dalam Kebersamaan BRI Peduli Segera Salurkan Bantuan Pasca Gempa Flores Magnitudo 7,7
Kesehatan

Kesalahan Standar Diagnosis Kesehatan Mental Remaja Dapat Picu Depresi Tidak Terdeteksi

Penilaian gangguan kesehatan mental pada remaja sering kali tidak akurat karena masih menggunakan standar diagnosis yang ditujukan untuk orang dewasa. Hal ini berpotensi menyebabkan banyak kasus depre...

Maya Soraya Larasati

Penulis

02 July 2026
70 kali dibaca
Ilustrasi depresi. (Foto: Getty Images/spukkato)
Ilustrasi depresi. (Foto: Getty Images/spukkato)

Jakarta - Penilaian terhadap masalah kesehatan mental di kalangan remaja saat ini sering kali dianggap tidak tepat. Hal ini disebabkan oleh penggunaan ambang batas diagnosis yang lebih cocok untuk orang dewasa. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di MedicalXpress mengingatkan bahwa penerapan standar klinis yang kaku dapat menyebabkan banyak kasus depresi dan kecemasan kronis pada remaja terlewatkan, padahal mereka memerlukan penanganan yang lebih awal.

Para peneliti menekankan bahwa gejala klinis gangguan mental pada remaja memiliki karakteristik psikologis yang sangat berbeda dibandingkan dengan orang dewasa. Akibatnya, banyak remaja mengalami penurunan kualitas hidup dan kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Mereka sering kali tidak mendapatkan bantuan medis yang diperlukan hanya karena hasil pemeriksaan mereka sedikit di bawah ambang batas diagnosis yang ditetapkan.

Fokus Terlalu Kaku dalam Sistem Kesehatan

Sistem pelayanan kesehatan saat ini dinilai terlalu terfokus pada klasifikasi yang hitam-putih, yaitu apakah seseorang memenuhi kriteria klinis atau tidak. Padahal, gangguan emosional pada remaja sering kali berada dalam area abu-abu yang fluktuatif. Kegagalan dalam mendeteksi gejala minor dapat berisiko memperburuk kondisi kesehatan mental mereka di masa depan, karena tidak ada intervensi yang dilakukan sejak awal.

Pentingnya Reformasi dalam Penyaringan Kesehatan Mental

Melalui temuan ini, tim peneliti mendesak agar ada reformasi dalam sistem penyaringan kesehatan mental secara global. Mereka menekankan perlunya standar penilaian yang lebih fleksibel dan berfokus pada tingkat gangguan fungsi sosial remaja dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya berdasarkan akumulasi angka atau skor yang kaku. Deteksi dini dengan menggunakan indikator yang lebih sesuai dengan kondisi psikologis remaja adalah langkah perlindungan yang terbaik. Ini penting untuk memastikan bahwa generasi muda mendapatkan dukungan emosional dan perawatan medis yang tepat sebelum gangguan mental tersebut berdampak permanen pada masa depan mereka.

Artikel Terkait