🔴 Breaking
Mahasiswa KKN UNNES Giat Memperkuat DESTANA di Desa Kutosari Melalui Pemasangan Biopori Diskon Spesial Pertamina untuk HUT RI ke-81: Pertamax dan Lainnya Rp 450 per Liter Pria Ini Tinggalkan Pekerjaan untuk Jadi Kreator Video AI, Pendapatannya Justru Meningkat Bencana Gempa NTT: Kemenkes Mengonfirmasi 46 Korban Jiwa dan 36 Luka Berat Kegiatan Family Gathering SDTQ Al Abidin Solo 2026: Memperkuat Persaudaraan dalam Kebersamaan BRI Peduli Segera Salurkan Bantuan Pasca Gempa Flores Magnitudo 7,7 Organ-Organ yang Bisa Dihilangkan Tanpa Mengganggu Kehidupan Manusia --- Ujian Seleksi Kompetensi Sekolah Kedinasan 2026 Dimulai pada 22 September --- Pertumbuhan Ekonomi Singapura Meningkat Berkat Kecerdasan Buatan, Proyeksi 2026 Diperbarui Pencegahan Aritmia: Apa yang Perlu Diketahui? Mahasiswa KKN UNNES Giat Memperkuat DESTANA di Desa Kutosari Melalui Pemasangan Biopori Diskon Spesial Pertamina untuk HUT RI ke-81: Pertamax dan Lainnya Rp 450 per Liter Pria Ini Tinggalkan Pekerjaan untuk Jadi Kreator Video AI, Pendapatannya Justru Meningkat Bencana Gempa NTT: Kemenkes Mengonfirmasi 46 Korban Jiwa dan 36 Luka Berat Kegiatan Family Gathering SDTQ Al Abidin Solo 2026: Memperkuat Persaudaraan dalam Kebersamaan BRI Peduli Segera Salurkan Bantuan Pasca Gempa Flores Magnitudo 7,7 Organ-Organ yang Bisa Dihilangkan Tanpa Mengganggu Kehidupan Manusia --- Ujian Seleksi Kompetensi Sekolah Kedinasan 2026 Dimulai pada 22 September --- Pertumbuhan Ekonomi Singapura Meningkat Berkat Kecerdasan Buatan, Proyeksi 2026 Diperbarui Pencegahan Aritmia: Apa yang Perlu Diketahui?
Teknologi

Pria Ini Tinggalkan Pekerjaan untuk Jadi Kreator Video AI, Pendapatannya Justru Meningkat

Jonathan Laramy, seorang pria berusia 32 tahun, memilih untuk resign dari pekerjaannya demi menjadi kreator video AI, dan hasilnya, pendapatannya kini jauh lebih tinggi dibandingkan saat ia bekerja se...

Bima Sakti

Penulis

16 August 2026
6 kali dibaca
Jonathan Laramy rela meninggalkan pekerjaan sebagai customer service untuk menjadi kreator video berbasis AI secara penuh waktu.(FoxNews)
Jonathan Laramy rela meninggalkan pekerjaan sebagai customer service untuk menjadi kreator video berbasis AI secara penuh waktu.(FoxNews)

KOMPAS.com - Meskipun sudah memiliki pekerjaan dengan gaji tetap, Jonathan Laramy memilih untuk resign dan beralih menjadi kreator video AI. Keputusan ini mungkin dianggap berisiko oleh sebagian orang, namun bagi Laramy, langkah tersebut terbukti menguntungkan. Dalam sebuah wawancara dengan Business Insider, ia mengungkapkan bahwa penghasilannya dari pembuatan video AI kini jauh lebih besar dibandingkan saat ia bekerja di bidang customer service.

Memulai Karir sebagai Kreator Video AI

Laramy kini mengelola saluran YouTube bernama "Chloe VS History", yang menampilkan video sejarah dengan pendekatan yang unik melalui karakter AI bernama Chloe. Chloe digambarkan sebagai seorang vlogger modern yang dapat melakukan perjalanan waktu, mengunjungi berbagai peristiwa bersejarah, mulai dari pelayaran perdana Titanic hingga letusan Gunung Vesuvius di kota kuno Pompeii.

Menariknya, Laramy tidak memiliki latar belakang di dunia perfilman atau produksi video. Sebelum terjun ke dunia kreator video AI, ia hanya bereksperimen dengan teknologi tersebut di waktu luangnya. Ia juga sudah memiliki akun media sosial yang membahas fakta-fakta sejarah, yang kemudian menginspirasi ide untuk membuat Chloe VS History.

Proses Produksi yang Memerlukan Biaya

Dalam proses produksi, Laramy memanfaatkan beberapa model AI, seperti Claude untuk mencari ide dan menyusun naskah, serta Nano Banana Pro dan ChatGPT 2.0 untuk menciptakan gambar. Gambar-gambar tersebut kemudian diubah menjadi klip video menggunakan Seedance 2.0. Ia juga menggunakan model suara AI untuk menjaga konsistensi suara Chloe di setiap video. Laramy mengungkapkan bahwa biaya untuk memproduksi satu video panjang berkisar antara 300 hingga 800 poundsterling (sekitar Rp 7,2 juta hingga Rp 19,2 juta), sehingga meskipun dibantu AI, produksi video tersebut tidak bisa dibilang murah.

Tidak hanya itu, setiap kali melakukan revisi, biaya yang dikeluarkan juga mencapai 3 dollar AS (sekitar Rp 53.597) per generate. Dengan modal yang cukup besar, Laramy awalnya tidak langsung mendapatkan penghasilan yang signifikan. Ia mencoba berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, namun pendapatannya dari platform tersebut belum memadai untuk menjadikannya sebagai pekerjaan utama.

Di Instagram, ia merasa tidak mendapatkan banyak pemasukan karena platform tersebut tidak membayar berdasarkan jumlah tayangan. Di TikTok, Laramy belum diterima dalam program Creator Rewards, dan di YouTube, ia juga tidak langsung meraih keuntungan. Namun, perubahan mulai terlihat ketika ia beralih untuk membuat video dengan durasi lebih panjang. Video berdurasi 15-20 menit yang dibuatnya berhasil meningkatkan penghasilannya, bahkan lebih besar dibandingkan saat ia masih bekerja sebagai customer service.

Meskipun tidak menyebutkan angka pastinya, Laramy merasa bahwa keputusannya untuk beralih menjadi kreator video AI sangat tepat, karena kini ia bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Ia juga menekankan bahwa pengalaman ini tidak serta-merta menjadikan AI sebagai "jalan pintas" menuju kesuksesan. Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada pemahaman mengenai jenis konten yang diinginkan oleh audiens.

Artikel Terkait