🔴 Breaking
Kesehatan

Kontroversi Penghapusan Telur dari Menu Makan Siang di Sekolah India

Keputusan pemerintah Benggala Barat untuk menghapus telur dari menu makan siang gratis di sekolah negeri memicu perdebatan di masyarakat, terutama terkait dengan gizi anak-anak.

Arjuna Mahendra

Penulis

15 July 2026
9 kali dibaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/Carpe89
Foto: Getty Images/iStockphoto/Carpe89

Keputusan pemerintah negara bagian Benggala Barat, India, untuk menghilangkan telur dari menu makan siang gratis di sejumlah sekolah negeri telah menimbulkan perdebatan yang luas. Kebijakan ini menjadi sorotan di media sosial dan menarik perhatian nasional karena dampaknya terhadap gizi jutaan anak sekolah. Langkah tersebut merupakan bagian dari proyek percontohan yang menggantikan telur dengan pilihan menu vegetarian dalam program makan siang gratis, yang di Indonesia dikenal sebagai Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, menyediakan makan siang gratis bagi siswa di sekolah negeri dan sekolah yang menerima bantuan pemerintah. Bagi banyak anak dari keluarga kurang mampu, makan siang tersebut adalah sumber gizi utama, bahkan terkadang menjadi satu-satunya makanan yang mereka konsumsi dalam sehari. Program ini juga telah diakui dapat meningkatkan status gizi anak, mengurangi kelaparan, dan meningkatkan angka kehadiran siswa di sekolah.

Perubahan Menu dan Kontroversi yang Muncul

Kontroversi ini muncul setelah pemerintah Benggala Barat yang baru dipimpin oleh Partai Bharatiya Janata Party (BJP) menunjuk International Society for Krishna Consciousness (ISKCON), atau gerakan Hare Krishna, sebagai penyedia makanan di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Kolkata Municipal Corporation. Melalui yayasan Annamitra Foundation, ISKCON hanya akan menyajikan makanan vegetarian, sehingga telur akan digantikan dengan sumber protein lainnya.

Meskipun proyek ini belum dimulai dan belum ada kepastian akan diterapkan di sekolah lain, kebijakan ini kembali memicu perdebatan lama di India mengenai menu makan siang sekolah. Partai oposisi All India Trinamool Congress (TMC), yang sebelumnya memimpin Benggala Barat hingga Mei lalu, menuduh BJP berusaha memaksakan pola makan vegetarian kepada anak-anak sekolah.

Pandangan Ahli Gizi dan Kekhawatiran Orang Tua

Beberapa ahli gizi menilai telur sebagai salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang paling terjangkau dan mudah diakses. Fareha Shanam, seorang ahli gizi dari Sir Ganga Ram Hospital di New Delhi, menyatakan bahwa telur mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. "Telur juga kaya akan vitamin D dan vitamin B12, menjadikannya sumber nutrisi yang sangat baik bagi anak-anak yang sedang tumbuh," ujarnya.

Shanam menambahkan bahwa meskipun makanan lain seperti paneer dapat memberikan kandungan gizi yang serupa, harganya jauh lebih mahal dibandingkan telur, sehingga sulit untuk diterapkan secara rutin dalam program makan siang yang didanai pemerintah. Dr. Vamshi V, seorang dokter penyakit dalam dari Gleneagles Aware Hospital di Hyderabad, juga menekankan bahwa mengganti telur tanpa memastikan kandungan gizinya setara dapat menyebabkan anak kekurangan protein dan mikronutrien penting.

Kekhawatiran juga muncul dari orang tua murid. Chaitali Mitra, seorang ibu yang memiliki anak bersekolah di sekolah negeri, mengungkapkan bahwa ia merasa lebih tenang jika menu makan siang tetap menyajikan telur. "Hal itu membuat saya yakin kebutuhan protein anak saya yang sedang tumbuh dapat terpenuhi," ungkapnya. Beberapa guru juga menyatakan bahwa program makan siang gratis menjadi salah satu alasan utama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap bersekolah.

Di tengah polemik ini, beberapa politisi dan aktivis mengusulkan solusi kompromi, yaitu memberikan pilihan kepada siswa untuk memilih antara mengonsumsi telur atau menu vegetarian. Model seperti ini telah diterapkan di beberapa daerah, seperti yang diungkapkan oleh seorang guru di Bihar, Bimla Singh, yang menyatakan bahwa setiap Jumat sekolahnya menyediakan dua pilihan menu. "Siswa yang makan telur mendapat telur, sedangkan yang tidak mengonsumsi telur diberi pisang. Tidak ada yang dipaksa memilih salah satunya," jelasnya.

Sampai saat ini, pemerintah Benggala Barat masih dalam proses pembahasan mengenai pelaksanaan proyek ini bersama ISKCON. Belum ada keputusan apakah kebijakan penghapusan telur akan diterapkan secara lebih luas di seluruh sekolah negeri di wilayah tersebut.

Artikel Terkait