Jakarta - Proses pencalonan untuk posisi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) periode 2027-2032 mulai menarik perhatian publik. Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, akan menghadapi sejumlah kandidat dengan reputasi yang mengesankan di arena kesehatan internasional. Dicky Budiman, mantan panel ahli WHO, menganalisis kekuatan masing-masing kandidat yang telah resmi mendaftar. Ia menekankan bahwa BGS harus menghadapi tantangan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tiga pesaing utamanya.
Pesaing Utama BGS
Dicky menilai bahwa pesaing terkuat BGS saat ini adalah Dr Hanan Balkhy dari Arab Saudi. Hanan, yang merupakan lulusan Universitas King Abdulaziz dan telah menyelesaikan residensi di Massachusetts General Hospital serta fellowship penyakit infeksi di Cleveland Clinic, dianggap memiliki profil yang sangat ideal sebagai bagian dari WHO. Saat ini, Hanan menjabat sebagai Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, setelah sebelumnya berperan sebagai Asisten Direktur Jenderal untuk isu resistensi antimikroba di Markas Besar WHO, Jenewa.
"Kalau di-ranking Hanan Balkhy nomor satu. Dia punya kredibilitas teknis penuh sebagai dokter, karier panjang di birokrasi WHO, dan jaringan internal yang sangat kuat," ungkap Dicky. Ia juga menambahkan bahwa analisis di Health Policy Watch menyebut Hanan sebagai langkah diplomasi yang cerdas, mengingat latar belakangnya yang lahir di AS, yang bisa menjadi jembatan strategis dalam hubungan dengan pemerintah Amerika Serikat.
Persaingan yang Ketat
Di urutan kedua, Dicky menempatkan Dr Hans Henri P Kluge dari Belgia. Kluge, yang menjabat sebagai Direktur Regional WHO Eropa sejak Februari 2020, telah terbukti mampu memimpin kawasan Eropa melalui berbagai krisis besar, termasuk pandemi COVID-19, wabah Mpox, dan dampak kesehatan dari konflik Rusia-Ukraina. Selain pengalaman dalam menangani krisis multilateral, Kluge juga didukung oleh blok Eropa yang memiliki suara solid di World Health Assembly (WHA).
Sementara itu, kandidat ketiga adalah Dr Hanan Mohammed Al-Kuwari, mantan Menteri Kesehatan Qatar. Dicky menilai profil Al-Kuwari mirip dengan BGS, karena keduanya berasal dari latar belakang menteri kesehatan domestik, bukan karier birokrat di dalam WHO. "Kekuatan Al-Kuwari terletak pada dukungan finansial-diplomatik negara Teluk dan posisi Qatar sebagai penghubung Timur Tengah dan Barat. Kalau dibandingkan, posisinya relatif setara dengan BGS sebagai outsider," jelas Dicky.
Dicky menyimpulkan bahwa Hanan Balkhy dan Hans Kluge memiliki keunggulan struktural yang sulit ditandingi oleh BGS. Keduanya sudah lama menduduki posisi puncak di WHO, sehingga telah membangun jaringan pemilih yang kuat di antara 34 negara anggota Executive Board. Di sisi lain, BGS dan Al-Kuwari berada dalam posisi outsider yang mengandalkan legitimasi keberhasilan program domestik, yang bagi BGS sendiri dinilai belum sepenuhnya solid di dalam negeri.
Tantangan ini semakin besar mengingat Indonesia tidak memiliki kursi di Executive Board WHO pada sesi nominasi Januari 2027. "Realistisnya, BGS menghadapi tantangan yang jauh lebih berat untuk membangun koalisi suara. Kekuatan utama BGS harus datang dari narasi Global South dan skala keberhasilan program domestik, bukan dari jaringan kelembagaan internal WHO," tegas Dicky.