Jet tempur Rafale dikenal sebagai salah satu pesawat tempur yang paling berpengalaman di dunia, telah digunakan dalam berbagai misi militer sejak tahun 2007. Pada hari Senin, 18 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto secara simbolis menyerahkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru kepada TNI di Landasan Udara Halim Perdanakusuma International Airport. Penyerahan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat pertahanan udara Indonesia, termasuk kehadiran jet tempur Rafale yang diproduksi di Prancis untuk TNI Angkatan Udara.
Dalam acara tersebut, Prabowo menyerahkan kunci pesawat MRCA Rafale, Falcon 8X, dan Airbus A400M Atlas kepada Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Alutsista yang diserahkan mencakup enam pesawat tempur Dassault Rafale, empat pesawat Dassault Falcon 8X, satu pesawat angkut militer Airbus A400M Atlas, serta berbagai sistem persenjataan seperti Radar GCI GM403, Smart Weapon Hammer, dan Missile Meteor. Sebelum penyerahan, Prabowo membuka tirai lambang Skuadron 12 yang tertera pada badan pesawat Rafale dan menjalani tradisi penyiraman air kembang serta pemecahan kendi.
Keunggulan Jet Tempur Rafale
Indonesia menjadi salah satu pembeli utama pesawat Rafale dari Dassault Aviation, setelah Kementerian Pertahanan resmi mengakuisisi total 42 unit jet tempur tersebut. Menurut informasi dari situs resmi Dassault Aviation, pesawat tempur Rafale adalah jet bermesin ganda yang dapat dioperasikan baik dari kapal induk maupun pangkalan udara darat. Dirancang sebagai pesawat tempur multirole, Rafale mampu menjalankan hampir semua misi tempur modern, termasuk superioritas udara, pertahanan udara, dukungan serangan darat, serangan jarak jauh, pengintaian, serangan anti-kapal, hingga misi penangkal nuklir.
Pesawat ini mulai digunakan oleh Angkatan Laut Prancis pada tahun 2004 dan resmi bergabung dengan Angkatan Udara Prancis pada tahun 2006. Sejak 2007, Rafale telah terlibat dalam berbagai operasi militer, menjadikannya salah satu pesawat tempur paling berpengalaman di dunia. Keberhasilan ekspor Rafale juga terus meningkat, dengan jumlah pesanan dari negara lain melampaui pesanan dari pemerintah Prancis sendiri.
Peran Rafale dalam Kedaulatan Nasional
Bagi industri pertahanan Prancis, Rafale merupakan simbol kedaulatan nasional karena seluruh sistem tempurnya dikembangkan dengan teknologi mandiri. Pesawat ini dirancang untuk memastikan independensi operasional Prancis dalam menghadapi berbagai ancaman modern. Sejak awal pengembangannya, Rafale dirancang sebagai sistem superioritas militer yang dapat menggabungkan berbagai kemampuan tempur dalam satu misi, mulai dari penguasaan udara hingga misi penangkal nuklir.
Rafale juga terbukti mampu beroperasi jauh dari wilayah asalnya, menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan strategis yang dimilikinya. Selain menjadi andalan militer, pesawat ini juga mendukung industri teknologi dan pertahanan Prancis, melibatkan ribuan tenaga kerja terampil di sektor penerbangan, elektronik, dan mesin pesawat. Di pasar internasional, Rafale telah dipilih oleh delapan negara untuk memperkuat angkatan bersenjata mereka, termasuk Mesir, India, Qatar, Yunani, Kroasia, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Serbia.
Prancis meyakini bahwa Rafale membantu memperkuat kedaulatan negara-negara pengguna dengan memberikan kebebasan dalam menentukan strategi pertahanan dan modernisasi militer tanpa ketergantungan pada pihak lain. Rafale hadir dalam beberapa varian, termasuk Rafale C untuk Angkatan Udara, Rafale B untuk dua kursi, dan Rafale M untuk Angkatan Laut, yang semuanya memiliki sistem dan kemampuan tempur yang hampir identik.
Pesawat ini dikenal memiliki keunggulan utama seperti fleksibilitas misi, interoperabilitas dengan negara sekutu, kemampuan menjalankan beberapa misi sekaligus dalam satu penerbangan, serta daya tahan tinggi dalam lingkungan tempur yang berisiko. Rafale dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik canggih, kemampuan terbang rendah otomatis dalam berbagai kondisi cuaca, serta sistem keamanan aktif yang meningkatkan peluang bertahan di medan perang modern. Pesawat ini bahkan disebut sebagai “force multiplier” karena mampu menggantikan tujuh jenis pesawat tempur yang berbeda dalam satu platform.
Dengan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang dimilikinya, Rafale dianggap sebagai solusi bagi angkatan udara modern yang dituntut untuk menjalankan lebih banyak misi dengan sumber daya yang lebih efisien di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global. Prancis pun memastikan bahwa Rafale akan tetap menjadi tulang punggung kekuatan udara militernya hingga setelah tahun 2060.