China telah bertransformasi menjadi tidak hanya tujuan wisata, tetapi juga pusat pembelajaran bagi para investor dan pelaku bisnis yang ingin menyaksikan kemajuan teknologi secara langsung. Salah satu cara untuk mengeksplorasi hal ini adalah melalui program tur teknologi yang diselenggarakan oleh Baiguan, sebuah perusahaan riset yang berbasis di Shanghai. Menurut laporan dari Reuters, program tersebut berlangsung selama lima hari dengan biaya mencapai 15.000 dollar AS, setara dengan sekitar Rp 264 juta (berdasarkan asumsi nilai tukar 1 dollar AS = Rp 17.600).
Program ini dirancang untuk investor, pengusaha, dan eksekutif yang berkeinginan untuk mempelajari lebih dalam tentang perkembangan teknologi di China. Robert Wu, CEO Baiguan, menjelaskan bahwa program ini hadir untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang ingin secara serius memahami kemajuan teknologi yang ada di negara tersebut. "Orang-orang kini melihat China sebagai objek menarik untuk dipelajari, sebuah tren baru yang belum pernah ada beberapa tahun lalu," ujarnya.
Rute Perjalanan yang Menarik
Dalam tur teknologi ini, peserta tidak hanya akan diajak berkeliling ke tempat-tempat wisata, tetapi juga mengunjungi berbagai perusahaan dan pusat industri untuk menyaksikan perkembangan teknologi secara langsung. Rute perjalanan biasanya mencakup kota-kota yang dikenal sebagai pusat industri teknologi di China, seperti Beijing, Shenzhen, Shanghai, Hangzhou, dan Hefei. Di kota-kota tersebut, peserta dapat mempelajari kemajuan teknologi di berbagai sektor, mulai dari kendaraan listrik (EV), baterai, kecerdasan buatan (AI), hingga robotika.
Wu menambahkan bahwa Baiguan telah membawa lebih dari 24 investor, pengusaha, dan eksekutif dalam dua tur yang telah diselenggarakannya, dengan sekitar setengah dari peserta berasal dari Asia Tenggara. Salah satu peserta, Bertrand Chen, CEO Global Shipping Business Network, mengungkapkan bahwa melihat langsung pabrik sangat penting untuk memahami perkembangan teknologi di China. Ia menyatakan bahwa skala, kecepatan, dan proses pengembangan teknologi di China sulit dipahami hanya dengan melihat dari luar.
Peningkatan Permintaan untuk Tur Teknologi
Baiguan bukan satu-satunya perusahaan yang melihat peluang dari meningkatnya minat terhadap teknologi di China. Glopen, perusahaan tur teknologi lainnya yang berbasis di Shanghai, melaporkan bahwa permintaan untuk tur teknologi di China meningkat sebesar 50 persen sepanjang tahun 2026. Glopen kini menyelenggarakan lebih dari 100 tur perusahaan setiap bulannya dalam format kunjungan satu hari. Mayoritas pelanggannya berasal dari Eropa dan Singapura.
Sementara itu, Rui Ma, seorang investor keturunan China-Amerika, telah mengadakan 11 tur serupa sejak tahun 2019 melalui platform Tech Buzz China. Program tersebut membawa peserta untuk melihat perkembangan robotika dan teknologi baru di berbagai kota di China. Menurut Ma, kunjungan langsung merupakan bagian penting dari proses due diligence, yaitu penilaian mendalam sebelum mengambil keputusan bisnis, mengingat perusahaan-perusahaan China semakin berpotensi menjadi pesaing, mitra, pemasok, atau target investasi di berbagai negara.
Fenomena ini juga tidak terbatas pada program tur khusus untuk investor. Beberapa perusahaan teknologi di China mulai membuka fasilitas mereka untuk dikunjungi oleh masyarakat dan tamu dari luar negeri. Contohnya, pabrik mobil listrik Xiaomi di Beijing telah menerima lebih dari 250.000 pengunjung sejak Maret 2024. China juga telah menetapkan lebih dari 140 lokasi sebagai situs percontohan untuk wisata industri.
Beberapa pabrik bahkan menawarkan kunjungan kepada masyarakat dengan biaya sekitar 60 dollar AS, atau sekitar Rp 1 juta. Meningkatnya minat ini menunjukkan bahwa bagi sebagian investor dan pelaku bisnis, melihat langsung proses pengembangan dan produksi teknologi menjadi cara yang efektif untuk memahami industri di China. Terlebih lagi, China kini menjadi salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik, baterai, AI, dan robotika.
Namun, Louis Ma dari Tech Buzz China mengingatkan agar perkembangan teknologi di China tidak terlalu dibesar-besarkan. "Di bidang teknologi, perusahaan non-China masih menguasai sebagian besar pangsa pasar global, memiliki kekayaan intelektual yang lebih maju, dan meraih keuntungan terbesar dari sektor ini," pungkasnya.