Pada Rabu, 1 Juli 2026, harga emas yang diproduksi oleh Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian menunjukkan penurunan yang seragam. Penurunan harga logam mulia tersebut berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per gram.
Menurut informasi yang diperoleh, harga emas Galeri24 mengalami penurunan sebesar Rp 5.000, menjadi Rp 2.600.000 per gram, dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 2.605.000 per gram. Sementara itu, harga emas Antam turun sebesar Rp 6.000, menjadi Rp 2.730.000 per gram, dari harga perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp 2.736.000 per gram. Harga emas UBS juga merosot sebesar Rp 5.000, menjadi Rp 2.612.000 per gram, dari harga sebelumnya yang tercatat Rp 2.617.000 per gram.
Perubahan Harga Emas dan Kuantitas Penjualan
Perlu dicatat bahwa harga-harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu. Galeri24 menawarkan emas dengan kuantitas mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram, atau setara dengan 1 kilogram. Emas UBS tersedia dalam kuantitas antara 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan Antam di Pegadaian hanya menjual emas hingga 10 gram.
Tren Harga Emas Global
Di sisi lain, harga emas internasional mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, yang berlanjut hingga Rabu pagi waktu Jakarta. Penurunan ini merupakan yang terendah dalam 13 tahun terakhir, dipicu oleh kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah, yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (the Fed) akan menaikkan suku bunga.
Data dari pasar menunjukkan bahwa harga emas spot turun sebesar 0,2%, mencapai US$ 4.008,94 per ons, setelah sebelumnya mencapai level terendah sejak bulan November. Selama bulan Juni 2026, harga emas mengalami penurunan sebesar 11,3%. Selain itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus juga merosot 0,4% menjadi US$ 4.022,70 per ons.
Logam lainnya juga menunjukkan tren penurunan, dengan harga perak turun 0,8% menjadi US$ 58.2585 per ons, dan harga platinum menyusut 0,7% menjadi US$ 1.564,34. Sementara itu, harga paladium mengalami kenaikan sebesar 0,2% menjadi US$ 1.215,94. Secara keseluruhan, logam mulia menuju penurunan kuartalan pertama sejak tahun 2024 dan mengalami koreksi paling tajam sejak kuartal kedua tahun 2013.
Meskipun emas sering dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung memberikan tekanan pada logam yang tidak memberikan imbal hasil ini. Para analis mencatat bahwa pasar saat ini cukup gelisah mengenai stabilitas situasi geopolitik dan dampaknya terhadap harga emas.
Dalam konteks ini, survei OMFIF menunjukkan bahwa bank sentral cenderung mengurangi eksposur terhadap dolar AS dalam dekade mendatang, sambil meningkatkan kepemilikan emas dalam jangka pendek.