🔴 Breaking
Rekor Baru Saham Microsoft, Kapitalisasi Pasar Mencapai Rp 71.000 Triliun Pemerintah Singapura Mulai Distribusi Masker N95 Gratis di Tengah Kabut Asap Kisah Inspiratif Azam, Siswa SMPI Al Abidin Surakarta yang Sukses di Olimpiade IPA Danantara Dorong KAI Siapkan Rencana Transformasi untuk Hadapi Lonjakan Penumpang KRL Peluang Kerja Sopir Taksi Online dengan Mobil Listrik di Tengah Krisis Pekerjaan Penguatan Koperasi Pertanian di ASEAN Melalui Pengalaman Indonesia Penyebab Melemahnya Rupiah hingga Rp17.955 per Dolar AS Menggugah Ingatan Prabowo 2015: Kebakaran Hutan dan Status Bencana Nasional yang Tak Kunjung Ditetapkan Dampak Kesehatan Asap Kebakaran Hutan: Peringatan yang Sudah Diberikan Sejak 26 Tahun Lalu Alasan Rustian Sestama BNPB Tidak Ditahan Meski Terlibat OTT KPK Rekor Baru Saham Microsoft, Kapitalisasi Pasar Mencapai Rp 71.000 Triliun Pemerintah Singapura Mulai Distribusi Masker N95 Gratis di Tengah Kabut Asap Kisah Inspiratif Azam, Siswa SMPI Al Abidin Surakarta yang Sukses di Olimpiade IPA Danantara Dorong KAI Siapkan Rencana Transformasi untuk Hadapi Lonjakan Penumpang KRL Peluang Kerja Sopir Taksi Online dengan Mobil Listrik di Tengah Krisis Pekerjaan Penguatan Koperasi Pertanian di ASEAN Melalui Pengalaman Indonesia Penyebab Melemahnya Rupiah hingga Rp17.955 per Dolar AS Menggugah Ingatan Prabowo 2015: Kebakaran Hutan dan Status Bencana Nasional yang Tak Kunjung Ditetapkan Dampak Kesehatan Asap Kebakaran Hutan: Peringatan yang Sudah Diberikan Sejak 26 Tahun Lalu Alasan Rustian Sestama BNPB Tidak Ditahan Meski Terlibat OTT KPK
Ekonomi

Penyebab Melemahnya Rupiah hingga Rp17.955 per Dolar AS

Rupiah terus mengalami penurunan nilai, mencapai Rp17.955 per dolar AS pada 15 Oktober 2026. Penyebab utama melemahnya mata uang ini adalah inflasi yang meningkat di Amerika Serikat dan ketidakpastian...

Fehardian Rahaja

Penulis

15 October 2026
6 kali dibaca
Bank Indonesia, Jakarta. [Antara//M Risyal Hidayat/wsj]
Bank Indonesia, Jakarta. [Antara//M Risyal Hidayat/wsj]

Kepala Departemen Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, mengungkapkan bahwa rupiah melemah menjadi Rp17.955 per dolar AS pada Kamis, 15 Oktober 2026. Penurunan nilai ini dipicu oleh inflasi yang tinggi di Amerika Serikat serta ketidakpastian yang menyelimuti konflik di Timur Tengah.

Faktor Penyebab Melemahnya Rupiah

Bank Indonesia menjelaskan bahwa pelemahan mata uang Garuda ini terjadi di tengah meningkatnya inflasi di Amerika Serikat. Erwin G. Hutapea menyatakan bahwa rilis data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya telah mendorong ekspektasi akan kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh The Fed. Selain itu, ketidakpastian mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah juga menyebabkan harga minyak tetap tinggi, yang berimbas pada risiko fiskal ke depan.

Dia menambahkan bahwa posisi indeks dolar AS (DXY) mengalami lonjakan ke level tertinggi sejak Mei 2025. Yield obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun juga sempat meningkat 12 basis poin menjadi 4,90 persen, yang menyebabkan arus keluar dana asing dari negara berkembang termasuk Indonesia. "Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan USD serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," jelasnya.

Intervensi Bank Indonesia

Bank Indonesia memastikan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang di kawasan, dengan pelemahan yang terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17 persen. Cadangan devisa juga tercatat stabil di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia terus aktif di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. "Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," tegasnya.

Dengan langkah-langkah ini, Bank Indonesia berupaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tantangan yang dihadapi.

Artikel Terkait