🔴 Breaking
Kesehatan

Perawatan Kulit Kontroversial: Skin Booster Kolagen dari Jaringan Kulit Manusia

Skin booster yang memanfaatkan jaringan kulit dari donor yang telah meninggal dunia menjadi sorotan publik. Produk ini, Elravie Re2O, berasal dari Korea Selatan dan mengundang berbagai reaksi di media...

Sabina Almira

Penulis

16 September 2026
15 kali dibaca
Foto: Ilustrasi skin booster (Getty Images/Dobrila Vignjevic)
Foto: Ilustrasi skin booster (Getty Images/Dobrila Vignjevic)

Jakarta - Sebuah perawatan kulit yang dikenal sebagai skin booster kini tengah menjadi topik hangat di kalangan masyarakat. Perawatan ini merujuk pada produk Elravie Re2O, sebuah injeksi anti-aging yang berasal dari Korea Selatan dan menggunakan jaringan kulit manusia dari donor yang telah meninggal.

Menurut penjelasan Dr. Taylor-Davies, seorang mantan dokter unit gawat darurat yang kini berpraktik di bidang estetika, jaringan kulit tersebut berasal dari donor yang telah memberikan izin untuk penggunaan jaringannya. Proses pengolahan jaringan ini melibatkan penghilangan sel dan materi genetik donor, sementara protein struktural seperti kolagen dan elastin tetap dipertahankan. Setelah itu, jaringan tersebut dimurnikan, disterilkan, dan diolah menjadi partikel kecil yang siap untuk disuntikkan.

Proses Pengolahan Jaringan Kulit

Dalam istilah medis, bahan yang digunakan dalam skin booster ini disebut sebagai processed human dermal matrix. Istilah ini dianggap lebih tepat dibandingkan menyebutnya sebagai "kolagen dari tubuh orang yang telah meninggal". Hal ini dijelaskan oleh Kim Han-saem, seorang dokter kulit dan kepala DoD Dermatology Clinic di Seoul, yang menyatakan, "Yang digunakan hanyalah jaringan kulit yang seluruh selnya telah dihilangkan untuk mencegah terjadinya penolakan oleh sistem imun dan efek samping berupa alergi."

Dr. Ben Taylor-Davies juga menambahkan bahwa jaringan dari jenazah tersebut diproses dengan cara yang sama, yaitu menghilangkan sel dan materi genetik, sementara kolagen dan elastin tetap dipertahankan. Jaringan ini kemudian dimurnikan dan disterilkan sebelum diolah menjadi partikel kecil untuk injeksi. "Peneliti melaporkan adanya perbaikan pada kepadatan dan elastisitas kulit, kerutan, pori-pori, serta hidrasi setelah perawatan. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mungkin mendapatkan kulit yang lebih halus, kencang, dan terhidrasi dengan tekstur yang secara keseluruhan lebih baik," ungkap Dr. Taylor-Davies.

Keterbatasan Penelitian

Meski demikian, penelitian yang dilakukan mengenai efektivitas produk ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Studi tersebut berlangsung selama 20 minggu dengan jumlah peserta yang relatif sedikit, serta dilakukan oleh peneliti yang terlibat dalam pengembangan produk ini.

Perdebatan mengenai penggunaan jaringan kulit manusia dari donor yang telah meninggal ini terus berlanjut, dengan banyak orang yang mempertanyakan etika dan keamanan dari perawatan ini. Namun, produk ini tetap menarik perhatian banyak orang yang mencari solusi untuk perawatan kulit mereka.

Artikel Terkait