🔴 Breaking
Jaringan Internasional Olah Emas Ilegal, Potensi Kerugian Hampir Rp 3 Triliun Per Bulan Mahasiswa KKN UNNES Giat Memperkuat DESTANA di Desa Kutosari Melalui Pemasangan Biopori Diskon Spesial Pertamina untuk HUT RI ke-81: Pertamax dan Lainnya Rp 450 per Liter Pria Ini Tinggalkan Pekerjaan untuk Jadi Kreator Video AI, Pendapatannya Justru Meningkat Bencana Gempa NTT: Kemenkes Mengonfirmasi 46 Korban Jiwa dan 36 Luka Berat Kegiatan Family Gathering SDTQ Al Abidin Solo 2026: Memperkuat Persaudaraan dalam Kebersamaan BRI Peduli Segera Salurkan Bantuan Pasca Gempa Flores Magnitudo 7,7 Organ-Organ yang Bisa Dihilangkan Tanpa Mengganggu Kehidupan Manusia --- Ujian Seleksi Kompetensi Sekolah Kedinasan 2026 Dimulai pada 22 September --- Pertumbuhan Ekonomi Singapura Meningkat Berkat Kecerdasan Buatan, Proyeksi 2026 Diperbarui Jaringan Internasional Olah Emas Ilegal, Potensi Kerugian Hampir Rp 3 Triliun Per Bulan Mahasiswa KKN UNNES Giat Memperkuat DESTANA di Desa Kutosari Melalui Pemasangan Biopori Diskon Spesial Pertamina untuk HUT RI ke-81: Pertamax dan Lainnya Rp 450 per Liter Pria Ini Tinggalkan Pekerjaan untuk Jadi Kreator Video AI, Pendapatannya Justru Meningkat Bencana Gempa NTT: Kemenkes Mengonfirmasi 46 Korban Jiwa dan 36 Luka Berat Kegiatan Family Gathering SDTQ Al Abidin Solo 2026: Memperkuat Persaudaraan dalam Kebersamaan BRI Peduli Segera Salurkan Bantuan Pasca Gempa Flores Magnitudo 7,7 Organ-Organ yang Bisa Dihilangkan Tanpa Mengganggu Kehidupan Manusia --- Ujian Seleksi Kompetensi Sekolah Kedinasan 2026 Dimulai pada 22 September --- Pertumbuhan Ekonomi Singapura Meningkat Berkat Kecerdasan Buatan, Proyeksi 2026 Diperbarui
Kesehatan

Peringatan Ahli Gizi Mengenai Ikan Sapu-sapu, Masih Berisiko Meski Dimasak dengan Higienis

Proses pengolahan ikan yang higienis tidak menjamin keamanan ikan sapu-sapu dari zat berbahaya. Ahli gizi mengingatkan bahwa logam berat yang terkandung dalam ikan ini sulit dihilangkan melalui metode...

Aditya Surya

Penulis

05 May 2026
102 kali dibaca
Foto: Rifkianto Nugroho
Foto: Rifkianto Nugroho

Jakarta - Mengolah ikan dengan cara yang bersih sering kali dianggap dapat mengurangi risiko bahaya. Namun, hal ini tidak berlaku untuk ikan sapu-sapu yang dikenal rentan terhadap pencemaran zat beracun. Nutrisionis Rita Ramayulis menegaskan bahwa meskipun proses pengolahan dilakukan dengan baik, ikan sapu-sapu tetap tidak aman untuk dikonsumsi jika sudah terkontaminasi zat berbahaya seperti logam berat.

"Ya, tidak menolong. Karena kan sebenarnya kalau cemaran-cemaran kimia itu, tidak semuanya larut di air. Kalau yang dosisnya sudah banyak, dia berbentuknya molekul besar," jelas Rita dalam program Sunset Talk, detikSore, pada Senin (4/5/2026).

Rita menambahkan, dalam dunia medis, penanganan racun dalam tubuh tidak sesederhana hanya dengan memasak atau mengolah makanan. "Makanya di dalam medis, dunia kedokteran itu, kalau sudah banyak racun di tubuh seseorang itu kan harus diterapi kelasi. Terapi kelasi itu dimasukkan agen-agen pengkelat (obat khusus) ke dalam tubuhnya yang melalui infus atau melalui obat-obatan, minum obat gitu," tuturnya.

Terapi tersebut bertujuan untuk mengubah racun menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh. Molekul toksik atau racun diubah menjadi ukuran yang lebih kecil dan dapat larut dalam air, sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. Namun, logam berat yang terdapat pada ikan sapu-sapu memiliki karakteristik yang sulit diatasi secara alami oleh tubuh, karena umumnya memiliki ukuran molekul yang besar.

Meskipun tubuh memiliki mekanisme alami untuk membuang zat sisa melalui urine dan keringat, tidak semua jenis racun dapat dikeluarkan dengan mudah. "Sebenarnya kan kita pipis (buang air kecil) setiap hari, berkeringat setiap saat, itu kan media pengeluaran zat-zat toksik juga. Tapi zat toksik yang mana dulu? Kalau sudah berbentuk logam berat, agak sulit dikeluarkan lewat keringat," ungkap Rita.

Dengan demikian, penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi ikan sapu-sapu, mengingat risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh kandungan logam berat yang sulit dihilangkan. Perkembangan lebih lanjut mengenai dampak konsumsi ikan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik.

Artikel Terkait