Jakarta - Mengolah ikan dengan cara yang bersih sering kali dianggap dapat mengurangi risiko bahaya. Namun, hal ini tidak berlaku untuk ikan sapu-sapu yang dikenal rentan terhadap pencemaran zat beracun. Nutrisionis Rita Ramayulis menegaskan bahwa meskipun proses pengolahan dilakukan dengan baik, ikan sapu-sapu tetap tidak aman untuk dikonsumsi jika sudah terkontaminasi zat berbahaya seperti logam berat.
"Ya, tidak menolong. Karena kan sebenarnya kalau cemaran-cemaran kimia itu, tidak semuanya larut di air. Kalau yang dosisnya sudah banyak, dia berbentuknya molekul besar," jelas Rita dalam program Sunset Talk, detikSore, pada Senin (4/5/2026).
Rita menambahkan, dalam dunia medis, penanganan racun dalam tubuh tidak sesederhana hanya dengan memasak atau mengolah makanan. "Makanya di dalam medis, dunia kedokteran itu, kalau sudah banyak racun di tubuh seseorang itu kan harus diterapi kelasi. Terapi kelasi itu dimasukkan agen-agen pengkelat (obat khusus) ke dalam tubuhnya yang melalui infus atau melalui obat-obatan, minum obat gitu," tuturnya.
Terapi tersebut bertujuan untuk mengubah racun menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh. Molekul toksik atau racun diubah menjadi ukuran yang lebih kecil dan dapat larut dalam air, sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. Namun, logam berat yang terdapat pada ikan sapu-sapu memiliki karakteristik yang sulit diatasi secara alami oleh tubuh, karena umumnya memiliki ukuran molekul yang besar.
Meskipun tubuh memiliki mekanisme alami untuk membuang zat sisa melalui urine dan keringat, tidak semua jenis racun dapat dikeluarkan dengan mudah. "Sebenarnya kan kita pipis (buang air kecil) setiap hari, berkeringat setiap saat, itu kan media pengeluaran zat-zat toksik juga. Tapi zat toksik yang mana dulu? Kalau sudah berbentuk logam berat, agak sulit dikeluarkan lewat keringat," ungkap Rita.
Dengan demikian, penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi ikan sapu-sapu, mengingat risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh kandungan logam berat yang sulit dihilangkan. Perkembangan lebih lanjut mengenai dampak konsumsi ikan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik.